About

Gambar yang saya gunakan sebagai header, logo dan icon di blog Uppeti ini adalah gambar rimbunan daun sirih duduk (Piper sarmentosum) yang ada di teras belakang halaman rumah orang tua saya. Kendati kemarau panjang ataupun saat rumah kami sedang dalam kesulitan air, sirih duduk ini tetap setia menghijaukan rumah kami, padahal banyak tanaman lainnya yang sudah mati karena tidak tahan pada kekeringan. Daun sirih duduk memiliki lapisan lilin di permukaannya sehingga memperjelas definisi tulang daunnya yang indah. Sebagai farmasis tentunya pemilihan daun ini juga cukup beralasan — lebih lanjut anda bisa mempelajari berbagai pustaka tentang khasiat dan karakteristik sirih duduk.

Sirih duduk menampakkan simbol-simbol kesederhanaan (bentuk daun yang simpel), karakter (definisi tulang daun), kerja-sama (rimbun), kerendahan hati (tanaman pendek), kehangatan (bentuk bulat), manfaat (keindahan dan khasiat tanaman), dan yang paling penting adalah karena mengingatkan saya akan rumah. Tanaman ini menggambarkan karakter yang ingin saya tonjolkan dalam blog ini: Less is more. Namun, seberapapun panjangnya alasan yang saya utarakan mengenai sebab mengapa saya memilih sirih duduk. Tetap saja saya tidak boleh mendahulukan tanaman ini diantara berbagai jenis tumbuhan atau bahkan dari bentuk-bentuk materi kehidupan lainnya.

Dibuat 25 April 2016

Opini dalam beberapa tulisan saya di blog ini tidak bersifat mutlak. Memang, ilmu atau pengetahuan apapun memiliki ciri yang sama, yaitu tidak bersifat mutlak. Terlebih lagi tulisan di blog tidaklah setara dengan tulisan di sebuah rubrik majalah apalagi tulisan ilmiah dalam sebuah jurnal. Itulah sebab saya sebut beberapa tulisan saya ini sebagai opini. Bisa jadi tulisan saya saat ini akan saya sangkal sendiri dikemudian hari karena telah didapatinya pengetahuan baru yang saya temukan dari berbagai sumber seperti saat tatap-muka dengan orang-orang inspiratif, buku, seminar, dll. Jadi dengan sangat terbuka saya menerima sangkalan dari siapa pun termasuk anda sebagai pembaca blog ini yang kemudian nantinya dapat saya pertimbangan untuk dipergunakan sebagai bahan pemikiran baru.

Dibuat 2 Maret 2015

Halaman ini disediakan untuk memberikan penjelasan mengenai segala sesuatu yang melatarbelakangi dibangunnya sebuah blog atau tempat untuk memperkenalkan diri kepada setiap tamu yang datang — lihat tentang penulis. Uppeti dibuat oleh saya pribadi tanpa dibatasi oleh topik apapun, oleh sebab itu saya selalu merasa dikejar-kejar oleh perubahan yang ada pada diri saya sendiri setiap waktunya untuk dapat didokumentasikan di sini. Manusia selalu berubah, tidak hanya pada raga tetapi lebih utama dari itu yaitu jiwa sebagai akar dari raga. Mulai dari pemahaman sampai dengan lupanya ia pada nilai-nilai yang dipegangnya diwaktu yang lalu. Karena itu, halaman ini sengaja saya buat dalam bentuk garis waktu. Sehingga perubahan-perubahan tersebut dapat terekam dan memberikan gambaran secara utuh tanpa sangkalan dari masa lalu.

Dalam blog ini anda akan sering menemukan 3 hal: farmasi, pemikiran lepas, dan update status. Saya mendalami ilmu farmasi di bangku pendidikan formal. Selain karena pencelupan diri saya kepada ibu (pemberian warna), saya juga memilih jalan farmasi disebabkan oleh keasyikan saya mempelajari ilmu kimia waktu itu. Namun seiring dengan perjalanan, saya mulai menyukai beberapa hal terkait spiritualitas. Hal tersebut terlihat dari aktifitas perenungan saya akhir-akhir ini akan nikmatnya perisai agama, filsafat, puisi dan lukisan.

Saya mengagumi kebebasan fikir manusia (mungkin itu sebabnya sampai saat ini saya sulit berkomitmen dengan rutinitas). Dari kebebasan berfikir terpilah rangka pemikiran dasar manusia. Sebegitu berharganya sehingga tidaklah mudah menangkap keliaran fikir tersebut. Jika tidak langsung ditanggap maka akan cepat menghilang. Seolah datang sekelibat pesan dari diri kita di dimensi yang berbeda dengan diri kita yang ada sekarang. Tanpa dibarengi oleh upaya apapun, keliaran fikir hanya berada di awang-awang. Untuk menjadikannya sebuah bentuk yang kita inginkan digunakanlah minyak bernama nafsu, zat warna bernama akal, dan kuas bernama intuisi. Minyak, zat warna dan kuas adalah satu kesatuan jika ingin memberikan pesan dalam sebuah kanvas. Itulah imajinasi, dimana akan tercipta keindahan atau keselarasan jika di dalam diri si pemikir tersebut terdapat kearifan dan kesungguhan untuk melahirkan sebuah kreativitas.

Kita memiliki hak untuk menentukan komposisi fikir berupa akal dan nafsu. Tetapi ada pula sesuatu yang hak namun kita tidak mempunyai daya apapun terhadapnya, itulah intuisi. Jika akal lemah dalam memberi keputusan, sering kali intuisilah yang berperan. Sehingga rupa dunia yang kita singgahi saat ini bisa jadi sebagian besar adalah milik intuisi.

Patut saya perjelas di sini, “manfaat” memiliki arti berdaya guna (dampak positif) terhadap konsep jiwa yang nantinya dapat menjadi cikal pengetahuan untuk menciptakan teknologi. Namun, tidak semua jiwa harus terfokus pada hilir atau pada teknologi sebagai parameter kemaslahatan umat, tetapi yang terpenting jiwa juga harus terus berfokus pada hulu atau yang bersumber dalam dirinya.

Manusia berkemampuan memperdalam pemahamannya terdahap diri. Fungsi kerjanya kedalam (yaitu menjaga sambungan kepada diri) dan keluar (menyebarkan/mengajarkan praktiknya kepada orang lain). Sebab pemahaman terhadap diri yang dimengerti oleh satu orang sangat mungkin akan terus menghilang jika tidak diwariskan. Jadi dalam implementasinya, selain praksis teknologi, praksis jiwa pun tetap harus terkonsentrasikan demi kemaslahatan umat.

Namun, kemaslahatan bukanlah pencapaian akhir dalam manfaat, kesempurnaan manfaat hanya akan bisa diraih melalui satu tujuan, yaitu kepada Allah SWT. Pada tulisan di atas, saya beri tanda kurung untuk menjelaskan makna manfaat dengan dampak positif dimana artinya tujuan akhir mengarah kepada positif absolut, yaitu kepada Allah.

Kesempurnaan manfaat adalah bentuk hubungan kita sebagai mahluk kepada Penciptanya, maka akal sebagai komponen manusia secara mutlak tunduk terhadap firman. Hal ini disebabkan oleh asal dari firman itu sendiri. Jadi apa-apa yang sulit akal terima, harus bungkam dan menerima begitu saja perintah dalam firman karena kesadaran penuh akan keterbatasan kita sebagai mahluk Allah.

Imajinasi yang memiliki kompisisi akal, nafsu, dan intuisi membuahkan rasa. Pemikir rasa mengemukakan rasa dengan mengedepankan pengalaman, lalu difungsikan berbagai indera untuk menyentuh tangkapan imajinasi dari berbagai dimensi. Kesepadanan ketiga proporsi pembentuk imaji tersebut secara bersamaan merupakan kelebihan yang dimiliki manusia.

Jangan beban dengan anggapan bahwa pemikir akal hanya terbatas pada ilmuan atau peng-imajener terbatas pada seniman dalam artian sempit. Karena dalam segala hal, kesepadu-padanan 3 proporsi tersebut tidaklah terpisahkan. Manusia adalah mahluk yang berkesenian. Sehingga seni merupakan keseluruhan bentuk. Kompleksitas teknologi atau kesederhanaan coretan dalam kanvas adalah seni. Jika komposisi akal lebih dominan maka akan menjadi teknologi, intuisi menjadi bayi, dan nafsu menjadi segala hal yang merusak. Maka kesepadanan adalah seni. Jadi jelaslah bahwa ilmu merupakan bagian (atau bisa jadi sebagai tools) dari seni. Pengertian tersebut sangatlah luas, sehingga matematika, fisika, ekonomi sosial dan budaya adalah seni yang sangat teratur, diterima oleh akal dalam logika si pemikir.

Pengalaman adalah nilai sentuh. Nilai-nilai yang dapat kita temukan dalam rasa. Objek didatangkan dari pengalaman, kemudian dialami oleh subjek. Sebelum benda seni tersebut dialami oleh penikmatnya, tentu seniman tersebut harus hadir terlebih dahulu pada pengalaman rasa yang pernah dialaminya. Begitu juga dengan ilmu sebagai alat kerja seni, yang baru akan relevan jika berdasarkan pengalaman empiris, dan ilmu yang baru berguna jika dapat dialami oleh pengguna. Karena itulah syarat sebuah ilmu agar relevan adalah memiliki sifat dinamis (berganti-ganti). Setiap bagian ilmu harus menginsafi adanya pertalian merah diantara mereka. Ilmu pengetahuan alam harus menginsafi perannya terhadap ilmu pengetahuan sosial agar mencapai kesempurnaan cipta yang berdaya guna, begitu pula sebaliknya.

Jadi perbedaan yang ingin saya garis bawahi yaitu:
a. Ilmuan adalah seniman dalam kategori yang lebih sempit (condong kepada akal). Dijunjungnya nilai-nilai logis yang tidak bertentangan dengan hukum alam.
— Urutannya: kebebasan fikir dipilah menjadi rangka pemikiran dasar (ide). Karena kebaikannya maka terciptalah sebuah budaya yang keberadaannya diterima oleh masyarakat tertentu. Lalu munculah pengukuh/ pencari kebenaran/ perunut yang fungsinya membuktikan berdasarkan metode-metode penjabar hukum alam untuk kemudian menetapkannya sebagai ilmu yang dapat diterima oleh seluruh umat manusia.
b. Sedangan seniman memiliki arti yang lebih luas tanpa batas-batas hukum maupun norma, melainkan penilaian berdasarkan unsur rasa. Sehingga terdapatlah barang seni menjalani fungsinya dalam mencicipi pengalaman rasa.

Dari uraian di atas maka pemikir rasa merupakan seluruh bagian anggota. Anggap saja jika kita ingin menggambarkan sebuah garis lurus, tanpa akal tidak akan terbayang apa itu garis lurus, tanpa nafsu tidak akan ada energi untuk menarik sebuah pena, tanpa intuisi kita tidak tahu kapan harus berhenti. Tetapi dengan peran ketiganya maka dalam kertas tersebut tergambarlah sebuah garis lurus.

Iman adalah parameter kesempurnaan manfaat. Akal, intuisi, dan nafsu yang tunduk kepada iman dapat mencapai kesempurnaan bentuk. Tanpa iman kesemuanya adalah bias. Memang jika kita membuat segala yang berasal dari pengalaman dan nafsu bisa jadi menjadi sebuah karya, tetapi secara keseluruhan tidaklah bermanfaat. Bersumber dari hal inilah maka dapat terpetakan bagaimana struktur kasta imaji. Bukan dari kompleksitas keberadaannya, namun dari kesempurnaan manfaatnya.

Sudah pasti sebesar apapun manfaat yang dapat kita ciptakan tidaklah dapat mendekati sebutir debu pun kebesaran manfaat yang berasal dari Illahi. Kita tidak bisa meniru alam atau menaklukan alam secara sempurna. Sebab walaupun kita diberikan kesanggupan sebagai khalifah di bumi, kita tetap saja sebagai mahluk-Nya yang mewajibkan keimanan sebagai syarat mutlak tercapainya manfaat. Keimanan manusia adalah cermin kebersihan jiwa, sedangkan manusia tidak pernah lepas dari segala dosa. Dan jika kita belajar dari sejarah, terihatlah batasan apa yang manusia miliki dari apa yang pernah mereka kerjakan berulang-ulang.

Satu hal yang sangat menarik bagi saya. Berbeda dengan akal dan nafsu, jika intuisi dihadirkan dalam kontras atau jika komposisi akal dan nafsu lebih kecil dari intuisi, maka akan tetap pula dapat dinikmati dalam pengalaman abstrak (tersendiri). Dan sudah tentu, kesemuanya menuntut hukum kesepadanan.

Coba perhatikan dengan seksama ketidak teraturan benda seni, disitu masih tersisa keberaturan yang memberikan manfaat. Keliaran fikir tersebut memberikan rasa yang bisa jadi sangat dominan rasa tersebut sehingga tersampaikan sebuah pesan dalam ketidak teraturannya. Di sini kita menyadari, seberapapun liarnya kita berfikir, akal adalah hak yang sangat besar porsinya melekat pada diri kita. Itu sebabnya mengapa manusia teratur dalam sebuah sistem pemerintahan, tertib walaupun ia berada jauh dari peradaban.

Hakikat manusia tidak bisa dipungkiri. Hati nurani manusia tidak pernah bisa dibohongi, dengan sendirinya bisa merasakan untuk apa dia tercipta, kemana seluruh tubuh ini runtuh bersujud tak berdaya. Jika pada kala sisa dari seluruh keliaran fikir yang sangat tidak bermanfaat dibarengi oleh nafsu, itulah keadaan dimana manusia dalam kodrat terendahnya. Akal hanya dimiliki oleh manusia. Jawablah, apakah hewan dapat menciptakan benda seni melainkan kosong? Rasa yang berasal dari akal dan nafsu tidaklah akan memiliki arah tanpa intuisi. Berbeda dengan akal dan nafsu, intuisi ada pada diri setiap mahluk sejak lahir tanpa harus didahului oleh proses pembelajaran. Inilah sebab induk rusa tau kapan harus melindungi anaknya, anak burung tahu kapan ia harus terbang, dan berang-berang tahu bagaimana cara membuat bendungan yang kokoh. Intuisi bermain, saat kita menyadari diri kita tidaklah ada begitu saja namun dengan adanya kehendak yang lain. Saat kita lalu menyepi tetapi tidaklah pernah bersendirian. Seolah kita diberikan kebebasan pada akal dan nafsu, namun intuisi adalah sesuatu yang tidak terelakkan, seperti program default yang disisakan sebagai bekal basis bagi mahluk untuk dapat berlaku (berkeputusan) di dunia.

Demikian penguraian panjang lebar yang melatar belakangi pembuatan blog ini. Uppeti sebagai judul blog merupakan akronim dari Puppik Penyawo Batin. Arti upeti sendiri tanpa double p adalah harta pemberian. Karena melalui blog inilah saya mewariskan sebuah tulisan yang berasal dari kebebasan fikir yang saya miliki, sebuah upeti yang saya persembahkan kepada siapapun yang membacanya. Sedangkan alasan untuk penambahan satu lagi huruf p adalah sebagai pembeda dan juga sebagai penekanan peran akronim tadi.

Di blog ini anda akan banyak menemui cerita tentang lukisan (secara pribadi saya menggemari aliran abstract expressionism) dan puisi. Dari keduanya secara terbuka terpetakan bagaimana sebenarnya bentuk kebebasan fikir yang saya miliki. Tidak hanya itu, banyak tulisan lainnya yang saya kemukakan disini dalam bentuk catatan perjalanan ataupun hal lainnya.

Ketahui dahulu aturannya lalu mainkan selayaknya musisi jazz. Sangkutkan diri pada Allah, lalu anda akan merasa sangat teduh di gersangnya dunia fana. Atau ibaratkan saja sebagai suguhan telur setengah matang dari saya untuk anda.

Penting tidak penting:
Sering mendapatkan ide saat sedang mandi? Yup! Ketentraman dicari oleh pembaharu yang membutuhkan penyegaran dalam berfikir. Bahkan kalimat tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah. Jika begitu adanya, bisa jadi keputusan penting dari orang-orang yang berpengaruh di dunia merupakan kebebasan fikir yang tertangkap saat ia sedang mandi. Karena di tempat itulah kita benar-benar sendiri saat kepala sedang dibasuh oleh air juga timbul keyakinan diri disaat seluruh tubuh kita kemudian akan menjadi bersih. Saat itu berkeliranlah pecahan-pecahan dari ingatan dan imajinasi. Tempat terbukanya keluasan fikir. Jadi segeralah letakkan catatan, alat rekam suara, ataupun mungkin handphone anda di kamar mandi! Sedikit tidak jauh berbeda jika kita mengingat satu buku puisi Rieke Diah Pitaloka berjudul Renungan Kloset, ya ya.. bisa dipastikan ia mengalami pengalaman yang sama walaupun ketentraman itu ia dapatkan bukan di kamar mandi melainkan lebih spesifik seperti halnya kloset. Jangan tanyakan mengapa saya lalu membicarakan kamar mandi dan kloset pada paragraf ini, saya juga tidak tahu.

Dibuat 9 Januari 2015 (terakhir update 15 Januari 2016)

image

Hi, nama saya Linda. Mereka biasa memanggil saya dengan sebutan batin — lebih lanjut mengenai saya.

Uppeti merupakan akronim dari Puppik Penyawo Batin. Dalam bahasa Lampung puppik penyawo berarti tutur kata, sedangkan batin berarti kakak atau sebutan untuk orang yang lebih tua (dituakan).

Blog ini memuat kumpulan tulisan yang saya buat berdasarkan perjalanan maupun pemikiran bebas sesaat.

Dibuat 3 Maret 2013.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s