Kehendak Menuju Langit

Leave a comment
Resensi / Resensi Buku

Kutipan kalimat ini adalah ungkapan bahasa manusia, dimana sesungguhnya manusia mengetahui sangat sedikit dari ilmu Allah;

“Wahai hamba-Ku, tanpamu niscaya takkan ada suluk dan perjalan (roh), takkan ada benda dan jejaknya, tidak akan ada kata sampai maupun kembali, takkan ada penyingkapan maupun memuliakan, tidak ada tempat ataupun menempatkan, tidak ada hal maupun pemberian warna, tidak ada kata mencicipi ataupun meneguk, tidak ada kulit maupun isi, tidak ada kata hamba maupun Tuhan, tidak ada kepergian jiwa dan ke-fana-annya, tidak ada jiwa, tidak ada keagungan dan kelembutan, tidak ada nafas maupun nyala api, tidak ada kuda maupun bunyi bel, tidak ada sayap maupun ruang-ruang, tidak ada angin maupun tempat persinggahan, tidak ada istilah mi’raj (naik ke langit) maupun turun ke bumi, tidak ada penampakan (tajali) maupun manghiasi diri (takhalli), tidak ada kemurahan maupun wujud, tidak ada pujian maupun yang dipuji, tidak ada kata mendekat ataupun mendaki, tidak ada kata menghampiri maupun perjumpaan, tidak ada kehinaan maupun kelembutan, tidak ada tabir maupun pengecualian, tidak ada kata bagaimana dan di mana, tidak ada kata pembelahan dan keterberaian, tidak ada kata akhir maupun stempel, tidak ada wahyu maupun firman, tidak ada kilatan maupun gelegar, tidak ada keutuhan maupun parsialitas, tidak ada jeritan maupun mendengarkan,
tidak ada kelezatan maupun mencari kenikmatan, tidak ada kata melepas dan menanggalkan, tidak ada kata kejujuran maupun keyakinan, tidak ada kata terang maupun samar, tidak ada cermin maupun cahaya, tidak ada kata terbit ataupun muncul, bentuk tidak akan tampak pada sifat, ketersambungan maupun keterpisahan tidak akan nampak, Arsy tidak akan ada, permadani tidak akan dihamparkan, awan tidak akan disingkap, ishthilam tidak akan membakar dahsyat, baqa’ maupun fana tidak akan terjadi, penarikan ataupun pemberian tidak akan ada, dan rahasia-rahasia yang lain tidak akan pernah ada. Cahaya tidak akan memancar pada pagar-pagar, samudra penciptaan tidak akan mengalir ke tahapan-tahapan.”

— Ibnu Arabi

Tulisan kali ini bukanlah ulasan penuh buku “Mendaki Tangga Langit” yang ditulis oleh Ibnu Arabi. Sebab saat ini saya masih dalam proses membacanya. Akan selesai Insya Allah sekitar 30 halaman lagi. Maka dari itu kali ini saya hanya akan menulis mengenai apa yang terbesit dibenak saya saat sampai pada sebuah paragraf yang saya temukan di halamanan 169 buku terbitan INDeS Publishing ini.

Dari pengalaman saya membaca beberapa buku — yang sebenarnya sangat sedikit; tampak dalam kepenulisannya bahwa beliau sudah sampai pada tahapan ‘dekat’ dan ‘tanggal’. Berbeda dari tulisan beberapa filusuf barat yang menuntut kita untuk berfikir kritis, dalam tulisannya saya malah terbawa untuk patuh yang kemudian kita dibuatnya seolah dibawa terbang tinggi. Mungkin sebab sifat tanggalnya itu membuat fikiran dan seluruh badan kita ikut terasa ringan saat membacanya. Dan sifat dekatnya itulah mengapa kita menjadi patuh. Efek yang sering kali saya dapatkan saat membaca buku spiritual terangkum di buku ini.

Cuplikan kalimat di atas mengingatkan saya pada tulisan yang sudah cukup lama pernah saya tulis di blog ini yang berjudul Rasio Emosi dalam Seni Lukis Abstract Expressionism. Tulisan tersebut sebenarnya berbicara mengenai ‘kehendak’. Kaitannya dengan kutipan kalimat di atas adalah kesamaanya dalam mengupas tetang peran manusia. Dimana kita merupakan mahluk yang berkehendak. Bagaimana pun kita berupaya mengingkari keterlibatan ‘yang lain’ dengan cara melepaskan kehendak kita dari segala sesuatu yang mengikatnya baik dengan sadar ataupun tidak sadar, kita tetap akan selalu bertemu dengan ‘jejak’, kecuali untuk orang-orang yang tidak memiliki akal, tidak berkeinginan (menutup diri), dan bagi orang-orang yang tidak berkemampuan / memungkinkan untuk dapat berfikir. Bukti kehendak kita yang tidak akan pernah benar-benar mampu membebaskan dirinya.

Sub-bab yang saat ini sedang saya baca.

Sebuah karya yang dibuat dengan melepaskan diri dari segala unsur tidaklah pernah menjadi sebuh karya. Selalu ada unsur sisa (yang sebenarnya murni) yang selalu menempel dan dapat tersampaikan, yang berfungsi sebagai jembatan antara kita dan Si Pemilik sekaligus sebagai jembatan antara sesama mahluk sebagai ekses dari kejadian pertama. Kita sering kali lalai dengan lebih memfokuskan diri pada aspek sesama tadi. Kita selalu berhenti di tahap tersebut dan enggan untuk menggali lebih jauh dengan alasan sesuatu yang terjadi haruslah bisa diterima oleh akal. Padahal boleh jadi akal kitalah yang sebenarnya lemah. Atau bisa jadi kita menerima adanya sesuatu yang diluar kesanggupan akal kita. Namun kita yang senantiasa tertutup / menutup diri, sedangkan beban seberat dunia tidaklah mungkin bisa kita pikul walau seluruh manusia disatukan.

Kehendak yang senantiasa ingin membebaskan dirinya dari keterikatan terbalut dalam kodrat. Jika kita berontak akan balutan kodrat tersebut maka rasa yang dikecap akan sangat teramat perih. Namun jika balutan kodrat tersebut dapat kita terima dengan hati yang lapang maka upah kebebasan dengan sendirinya akan menghampiri kita dalam wajah kebenaran.

Untuk sampai kepada kelapangan hati untuk menerima, kita diharuskan mencari ilmu. Surah Al-Alaq ayat 1-5 merupakan ayat yang pertama kali diturunkan, memerintahkan kita untuk mencari ilmu. Kata kedua terbanyak dalam Al-Quran adalah ilmu, setelah Allah pada urutan pertama dan keadilan pada urutan ketiga. Sehingga kemanapun ilmu yang kita cari pasti akan membawa kita pada ilmu Allah. Dengan ilmu kehendak akan terang jalannya. Mengantarkan kita pada cinta yang sebenarnya. Dengan cinta akan timbul keinginan untuk selalu dekat sehingga kepatuhan akan terjadi dengan pengharapan, yang jika diteruskan maka sifat-sifat-Nya seolah merasuk ke diri ini sebagai bukti kedekatan. Maka terjagalah kita dari segala sesuatu di luar ridhonya Allah SWT.

Kehendak yang selalu terjaga tersebut berhati lapang namun tetap, selalu mendonggakkan kepalanya, dengan tangan yang sibuk mencita maslahat, dan kaki yang terus berjalan lurus. Sehingga waktunya di dunia terpakai baik. Sebagai ciri golongan kanan.

Maka jika akal kita sudah berada pada tempatnya, arahnya hanyalah ada satu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s