Anne, Angin Segar dari Masa Lalu

Leave a comment
Resensi / Resensi Film

Oh tentu saja anda akan menyukai serial ini !

Cerita mengenai Anne Shirley ini telah banyak diadaptasi sejak diterbitkannya novel Anne of Green Gables pada tahun 1908 oleh Lucy Maud Montgomery. Serial adaptasi yang bisa kita nikmati sejak bulan Mei lalu ini dinamakan Anne with an E. Sungguh hadir sebagai alternatif bagi kita yang jenuh dengan sajian complicated sci-fi, colossal, thiller dan crime yang bernuansa perang cyber. Bukan berarti sajian tersebut tidak layak tonton, namun hadirnya Anne dengan kepribadian yang memikat dan kepenulisan sekenario oleh Moira Walley-Backett yang menarik membuat serial ini patut ditonton bersama keluarga.

Tidak seperti kebanyakan serial yang kita temui, Anne with an E memiliki alur cerita yang tidak terlalu panjang dan bertele-tele sehingga mudah dicerna oleh segala usia. Season 1 ini cukup untuk memperkenalkan satu-per-satu karakter yang dibangun sangat on-point menciptakan interaksi yang menarik diantara mereka. Anne yang tumbuh sebagai yatim-piatu memiliki trauma saat berada rumah penampungan sebelumnya. Kendati demikian ia adalah anak yang cerdas, imajinatif, dan talkative yang bisa jadi kelebihannya tersebut merupakan buah dari kegemarannya membaca banyak buku. Namun yang sangat saya sukai dari Anne adalah kejujuran dan kepercayaan dirinya — lihat adegan ketika ia marah besar saat Rachel mengatakan dirinya “anak berambut merah yang kurus”. Anne digambarkan sebagai anak yang naif yang tumbuh tanpa kasih sayang namun mampu memegang teguh kebenaran yang didapatkannya dari membaca, sebab itu walaupun pada awalnya ia sering bersikap kasar dan ceroboh namun itu dikarenakan kejernihan hatinya.

Di awal cerita anda akan mendapati Matthew yang ditugaskan untuk menjemput seorang anak laki-laki dari panti asuhan yang diharapkannya dapat membantunya mengurus tanah pertanian Green Gables di hari tuanya. Namun ternyata yang ditemuinya adalah seorang anak perempuan bernama Anne. Rasa kecewanya tidak diperlihatkan sampai akhirnya Anne tiba di Green Gables menemui Marilla, kakak perempuan Matthew. Cerita kemudian berkembang mulai dari sini.

Anda akan dibuat jatuh cinta dengan seluruh karakter di sana. Disiplin yang diterapkan Marilla, kesabaran Matthew dalam mendegarkan celoteh Anne, keterus-terangan Rachel, belum lagi Diana dan teman-teman Anne di kelasnya…dan Gilbert. Walaupun saya tidak tumbuh di negara yang sama dengan mereka, namun nilai-nilai yang mereka bawa mengingatkan kita pada ajaran kakek-nenek kita dahulu. Terlebih settings waktu yang mereka ambil andalah era awal tahun 1900-an. Sungguh film seri yang manis yang mampu mengisi hati para penontonnya.

“But if you call me Anne, please call me Anne with an ‘e’.” — Anne

Menonton film ini mengingatkan saya dengan Candy-Candy yang dibuat oleh Kyoko Mizuki bekerja sama dengan Yumiko Igarashi, serial komik Jepang yang terbit sekitar tahun 70-an. Walaupun dari segi cerita agak berbeda, namun karakter Candy-Candy yang kuat dan periang sering kali mengingatkan saya pada Anne.

Figure

Featured Image. The Other Side of Anne of Green Gables – The New York Times : https://static01.nyt.com/images/2017/04/30/magazine/30anneofgg1-copy/30anneofgg1-facebookJumbo.jpg. New York Times. Retrieved 1 June 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s