Mengapa Sampai Saat Ini Saya Belum Juga Menulis di Medium

Leave a comment
Update Status

Sejak lama saya mendamba-bambakan adanya sebuah platform yang dapat memanjakan seorang penulis lepas yang dapat memiliki kebebasan untuk menentukan keproduktivitasnya sendiri dalam menulis. Nyatanya, untuk mewujudkan hal tersebut kita membutuhkan berbagai hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan wadah yang ideal bagi seorang penulis.

“Produktifitas dengan enggannya berkaitan erat dengan penghayatan. Tulisan yang baik tidak dibuat dalam waktu yang singkat. Atau dengan kata lain seorang penulis perlu melewati berbagai proses pematangan terlebih dahulu.”

Sampai saat ini, jujur saja, Medium adalah platform yang sangat baik dan mengerti kebutuhan dasar seorang penulis. Dimulai dari segi design minimalis dengan fitur yang lengkap. Contohnya fitur favorit saya yaitu fitur Highlight yang bekerja layaknya highlight pada ebook. Kemudian fitur Responses, atau yang biasa kita kenal dengan fitur Comment pada sebuah blog. Bedanya fitur Responses ini dirancang sedemikian rupa sehingga kita dibuat sebebas mungkin untuk dapat membuat tulisan panjang tersendiri selayaknya tulisan lepas sebagai respon dari tulisan sebelumnya — coba saja! Belum lagi sekarang telah ada fitur berlangganan yang penghasilnya diberikan kepada penulis dengan tulisan yang berkualitas. Konten pilihan yang dikurasikan oleh Medium Staff dikomulatifkan dalam halaman Member Only hanya bagi mereka yang membayar $5 per bulannya. Demikianlah sedikit gambaran mengenai Medium, saya tidak mungkin menjelaskan satu-per-satu apa saja fitur mereka sebab platform ini masih berkembang dan masih sangat mungkin untuk timbul dan hilang. Terlepas dari itu, hampir semua yang saya bayangkan dalam sebuah platform kepenulisan ada di Medium!

Tampilan dan Fitur

Design layout sebuah website seperti Medium sangatlah penting mewakilkan jenis tulisan yang dibuat. Untuk tulisan yang panjang dibutuhkan sebuah kertas yang sangat lebar. Beda halnya denga tulisan singkat yang kadang kala lebih terfokus pada gambar-gambar menarik yang dimilikinya. Ada tulisan yang mudah menarik perhatian, namun ada pula tulisan yang membutuhkan penghayatan penuh bagi pembacanya. Bagi saya pribadi, pemecahan dari masalah ini sebenarnya sudah dijawab oleh Medium dengan cara mempergunakan latar-balakang berwarna putih dengan konsep minimalis. Saya jatuh cinta dengan Medium karena keminimalismnya. Konsep/design yang ditawarkan mendekati apa yang saya inginkan dalam sebuah platform sejenisnya.

Namun mengapa konten-konten di Medium masih terasa sangat monoton dan seragam. Tipikal hasil tulisan yang terdapat di sana tidak jauh berbeda dengan tulisan-tulisan seputaran tips dan laporan berita. Sepertinya mereka belum sepenuhnya dapat memikat hati para blogger, ilmuan, dan penulis serius lainnya — saya tidak bicara anak muda karena memiliki segmennya sendiri. Mungkin alasanya mereka memiliki target atau sasarannya sendiri, ok. Tapi itu artinya kita masih harus menuggu beberapa waktu lagi untuk mendapatkan model yang sungguh baru namun memiliki aspek “This is it!.” Sebenarnya tidak banyak yang harus diubah dari design yang telah ada saat ini. Seperti halnya font yang sedikit dikecilkan ukurannya, dapat mengingat halaman atau posisi last read, penunjuk posisi atau persen pembacaan, dan lainnya.

Mungkin ini yang menyebabkan saya masih sulit move on dari buku fisik daripada harus membeli versi ebook walaupun harganya lebih murah. Kepuasanya masih belum tergantikan. Ebook belum dapat memenuhi aspek ‘kehadiran’ dibandingkan buku fisik yang memang sudah pasti tidak pernah bisa lepas dari aspek tersebut. Menciptakan unsur kehadiran tersebut membutuhkan kecintaan tersendiri terhadap apa yang sudah kita miliki sebelumnya dan berniat untuk mewujud solusi baru (teknologi) dengan alasan penyetaraan untuk mewujudkan keadilan dan kebebasan kepada khalayak dengan cara menjangkaukan produk tersebut seluas-luasnya. Agar mereka dapat merasakan apa yang kita rasakan dengan cara yang lebih baik. Namun permasalahan ini masih menjadi issue bagi banyak produk teknologi digital lainnya. Seperi halnya kualitas suara pada vinyl pastilah berbeda dengan kualitas suara yang dihasilkan sebuah perangkat teknologi dengan format .mp3 dalam hal dimensi. Memindahkan pengalaman, baik dalam hal mendengar, melihat — membaca, sampai dengan menulis sebenarnya adalah permasalahan dalam hal dimensi itu sendiri.

“Seorang penulis biasanya adalah seorang pembosan yang memilih tempat membosankan untuk menuangkan imajinasinya. Sebab itu mengapa kertas dalam lembaran sebuah buku sering kali berwarna putih. Warung kopi yang menyediakan Wi-Fi untuk dapat duduk berjam-jam. Bukit yang tinggi namun sepi pengunjung. Buku yang tak kunjung selesai dibaca.”

“Tipikal pembaca yang ingin menggapai ide dalam sebuah buku, biasanya selalu mencoret dan melipat lembaran di bukunya. Mereka menyukai ide, bukan fisik dari buku tersebut. Pembaca seperti itu adalah penulis yang cepat sekali bosan mereka membutuhkan ‘kehadiran’ untuk dapat menetap. Untuk dapat merasakan.”

Sasaran dan Persaingan

Kita memang belum memiliki platform yang memiliki massa layaknya Twitter namun memiliki kebebasan menulis layaknya blog. Alhasil dengan adanya Medium diharapkan dapat banyak melahirkan citizen journalist yang dapat melaporkan keadaanya secara aktual di berbagai daerah. Mungkin massa seperti inilah yang menjadi sasaran Medium. Seperti halnya Kompasiana, Kumparan, Jakartabeat, dan lainnya. Lalu apa yang membedakan Medium dari semua itu?

Untuk memimpikan platform yang baru, kita harus lepas dari apa yang telah ada dan berkembang saat ini. Dengan menjadi diri sendiri. Dengan mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk menciptakan dunia yang penuh dengan manusia yang tidak berhenti untuk berevolusi, sebagai bentuk pencapaian dari apa yang telah mereka ‘tidak henti-hentinya’ fikirkan. Dalam rangka menggiatkan manusia di zaman yang penuh keterdugaan ini. Dimana kebaruan akan segera menjadi busuk dalam waktu yang sangat singkat. Dan tulisan dalam blog yang saya posting saat ini akan menjadi pemikiran sangat ketinggalan selepas anda makan siang esok hari.

Untuk melawan kesegeraan yang cenderung timbul pada zaman ini — dalam hal apapun — sehingga diperlukan adanya perlawanan untuk menyelamatkannya. Tugasnya adalah bagaimana menciptakan wadah yang dapat membuat seseorang yang kesehariannya selalu berlari-lari mengejar waktu untuk dapat duduk bersantai sebentar saja sekedar menikmati sore ini. Medium, Blogger, dan kebanyakan platform lainnya dibuat sangat cocok bagi penulis 300 kata, sebab itulah saya masih bertahan di WordPress dan banyak pilihan themes. Anda mungkin pernah mendengarkan sebuah kutipan yang mengatakan bahwa seorang penulis yang tidak dapat menuliskan sebuah tulisan yang dapat dimengerti oleh seorang anak kecil adalah seorang penulis yang kurang baik. Pemikiran tersebut menurut saya sedikit provokatif dan tergesa-gesa. Benar bahwa kita harus dapat mengkomunikasikan maksud dengan jelas dan sederhana, tetapi bagi siapa infomasi tersebut diarahkan? kita tidak selalu memiliki audiensi dari kalangan awam. Untuk memajukan sebuah ilmu seorang ilmuan tidak melulu harus menpresentasikan pemikirannya seperti yang terjadi pada TED, mereka juga membutuhkan teman yang mengerti maksud mereka tanpa harus menjelaskannya dalam bahasa yang sungguh bias, sehingga mereka dapat dengan cepat menghasilkan solusi dari suatu permasalahan. Anda mungkin mengetahui beberapa filusuf yang dengan sengaja menulis dalam gaya kepenulisan yang rumit dengan alasan menyelamatkan kebiasan pemikiran manusia. Tidak semua orang menyukai paparan tajam dan sederhana, ada sebagian lainnya yang menghargai ketidak-tajaman sebuah pemaparan sebab satu dan beberapa hal yang tidak dapat dipaksakan.

Di sini saya ingin mengingatkan kembali. Saya tidak sedang mendukung satu golongan lalu mengesampingkan yang lainnya. Bisa jadi jalan tengahnya adalah dengan memberikan solusi bagaimana menciptakan sebuah kertas kosong. Sebab siapun anda, selembar kertas kosong tidak pernah menghakimi. Dari anak kecil yang sedang belajar menulis sampai dengan orang tua yang mengisi waktu tuanya menulis sebuah diary.

Kepustakaan dan Influence

Permasalahan kepustakaan atau acuan masih belum menjadi perhatian kalangan luas. Solusi yang ditawarkan fitur Responses sudah sangat baik, namun sepertinya belum cukup memadai. Mengingat sumber-sumber pemikiran kita bisa datang dari mana saja dimulai dari buku, jurnal, website, dan lainnya. Saya sendiri masih sangat jauh untuk dapat membayangkan bagaimana solusinya. Mungkin bisa dengan integrasi pada platform lainnya yang lebih concern kepada kepustakaan. Siapapun yang dapat memecahkan permasalahan ini, terutama platform seperti Medium, sungguh akan menjadikan produknya sebagai daya tarik yang sulit diabaikan. Sebagaimana parameter respon tersebut terhadap suatu kepenulisan mencerminkan influence mereka bagi khalayak yang jika ini terwujud maka akan dapat menghasilkan algoritma tersendiri untuk dapat membaca kondisi ataupun topik terkatual.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s