Hakekat Ruh oleh Ibnul Qayyim: Tentang Kehidupan Setelah Kematian

Leave a comment
Resensi / Resensi Buku

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350) hidup pada era yang sama dengan Dante (diduga lahir pada 1265-1321), dimana keduanya adalah sosok penulis yang sama-sama mengupas habis secara mendalam tentang kehidupan setelah kematian — baca juga ulasan Inferno. Hasil karya mereka pun banyak dikutip sampai saat ini. Namun berbeda dengan Dante yang kepenulisannya syarat akan imajinasi yang disajikan dalam bentuk cerita dengan bahasa puitis, Ibnul Qayyim justru mengupasnya dalam usaha pencarian kebenaran atau dapat dikatakan mekanisme kepenulisannya banyak didasarkan pada empirisme dan filosofis yang kemudian dikumpulkan dan dianalisa lalu disimpulkannya dengan tidak meninggalkan acuan referesi kitab dan hadis.

Yang dirasakan saat membaca Hakekat Ruh karya Ibnul Qayyim ini adalah susunan kepenulisannya yang dirasakan mirip dengan Plato. Kemungkinan disebabkan oleh gaya bahasa filsafat pada saat itu yang memang rapat-rapat, berbeda dengan kepenulisan pada buku-buku yang banyak beredar dari zaman modern sampai sekarang seperti adanya judul dan anak judul yang dapat memisahkan dengan jelas perpindahan dari satu topik ke topik lainnya. Sehingga dibutuhkan waktu lebih untuk menangkap alur pemikiran penulis, walaupun jika kita hanya ingin membacanya dengan sekilas pandang saja sebenarnya sudah cukup untuk dapat dipahami secara global namun tidak dengan konsep alur fikir terperinci. Untungnya berbeda dengan Plato (pula), penyusunan kepenulisannya selalu dipisahkan berdasarkan pertanyaan-jawaban yang kemudian disusun dalam bab-bab tersendiri.

Mengenai editan kepenulisan pada buku terbitan yang saya miliki ini rasanya masih kurang memuaskan. Kemungkinan karena buku yang saya dapatkan ini adalah cetakan pertama. Banyak terdapat kata-kata yang masih salah ketik. Selain itu mungkin ada baiknya bila setiap perpindahan topik dalam satu bab dibagi menjadi pasal-pasal tersendiri, seperti yang saya temukan dalam buku terbitan baru dari penerbit lainnya yang juga menerjemahkan buku yang berjudul asli A-Ruh ini. Yang lebih mengusik saya lagi adalah penggunaan kata “Ruh”, sebab jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maka kata yang benar adalah “Roh”. Saya tidak tahu apa alasan pemilihan kata “Ruh” dibandingkan “Roh” pada buku ini. Sebab bisa jadi saya kurang faham mengenai aturan kebahasaan yang sangat banyak dan rumit namun kejanggalan tersebut terlalu mencolok mata.

Seperti biasa saya membutuhkan waktu yang lama untuk membaca buku semacam ini. Kendati demikian setelah menyelesaikannya, buku ini sangat layak untuk dijadikan salah satu buku favorit. Selain Membumikan Al-Quran, buku ini adalah buku berikutnya yang memberikan saya banyak hikmah dan hidayah khususnya dalam hal hakekat kehidupan dan kematian sekaligus.

Kita hanya diberikan sedikit pengetahuan tentang kehidupan setelah kematian, tentu itu adalah urusan Allah. Namun Ibnul Qayyim berusaha mencari tahu dengan mendongakkan dagunya, memanjangkan lehernya, dan berusaha memandang dengan cahaya untuk mengintip secuil ilmu. Menyusunnya dengan caranya sendiri yang tidak lain dilakukannya dengan harapan untuk menebalkan iman dan menyebarkannya.

Pertanyaan semacam keadaan roh setelah kematian di alam barzakh tidak luput diiringi dengan pembahasan mengenai pembeda antara jasad dan roh, juga roh dan jiwa. Pembahasan yang syarat akan unsur filosofis yang tetap mengacu pada kitab dan hadis. Begitu pula tentang doa orang yang masih hidup terhadap orang yang telah meninggal, mengenai pertemuan dalam mimpi, dan keadaan orang-orang golongan muslim dan orang-orang golongan selainnya. Pengalaman yang saya rasakan saat membaca buku itu terbagi empat secara berurutan: dalam bab-bab awal tentu saja saya agak ketakutan, kemudian intensitas atensi menaik sebab mulai terasa terbukanya berbagai infromasi, dipertengahan saya mulai agak bosan, namun setelah perjuangan panjang akhirnya terhibur juga di bab-bab terakhir. Memang secara keseluruhan, bagi saya, yang paling menghibur dalam buku ini letaknya ada pada bab-bab terakhir tersebut dimana kita diingatkan kembali akan makna kehidupan agar dapat kembali menjalankannya dengan benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s