Buntu. Saya Tidak Bahagia :(

Leave a comment
Renung / Sejenak

Oh ho! Kita sama-sama tahu tidak banyak diantara kita yang suka memposting moment-moment buruk hidup kita di social media. Hal inilah yang membuat social media tidak bisa menjadikan dirinya sebagai ruang yang cukup tenang bagi siapapun, baik itu bagi orang yang memposting maupun orang yang melihat hasil postingan tersebut. Apapun itu, hampir semua diposting saat seseorang sedang dalam puncak hidupnya. Itu manusiawi. Tidak ada orang yang ingin terlihat buruk.

You First!
Saat ini saya ingin mulai mencoba berlatih untuk lebih jujur. Memanusiakan manusia di dunia maya. Tujuannya bukan untuk siapapun, melainkan lebih kepada kepuasan diri. Hasilnya, content kita akan lebih beragam. Ada ataupun tidak yang melihatnya, saya tidak perduli. Anda boleh saja memaksakan diri untuk selalu terlihat baik. Tetapi apa yang sudah anda capai? followers? Sabarlah sedikit.

“Jangan lakukan untuk orang lain sebelum dirimu.”

Memberikan manfaat (Pesan yang Sampai).
Saya yakin, ada cara lain yang lebih baik dari sekedar memaksakan diri terlihat baik. Memberikan manfaat misalnya. Apapun contentnya, baik itu terlihat indah ataupun kacau sebaiknya mampu memberikan pesan kepada orang lain. Tidak semua film berakhir happy-ending, malah sad-ending sering kali lebih attach ke penontonnya. Buktinya film horror tetap saja laku dipasaran walaupun hampir seluruh pemainnya meninggal diperjalanan.

Contohnya saat ini saya sedang buntu untuk menulis mengenai apapun. Sebab fokus saya akhir-akhir ini yang sering terbagi. Tetapi toh tetap saja keadaan ini bisa dijadikan bahan tulisan. Walaupun isinya cuma omong kosong. PewDiePie pernah memposting video tentang masalah ini:

Sama-rasa.
Mungkin ini yang menjadi kunci mengapa fenomena “Om Telolet Om” bisa booming sampe ke mancanegara (reaksi saya saat ini: pura-pura bangga). Apa yang keren dari klakson bus antar-kota tersebut? Ternyata “ironis”-nya itulah yang mampu menarik simpati kemudian bertransformasi menjadi rasa bahagia. Timbul sama-rasa, sebab empati yang menjual.

Kekacauan berdampak kebaikan jika semua kita lihat dari sudut pandang hikmah.

Tonton juga, video respon dari Casey Neistat:


Figure

Featured Image. Black Pencil on White Paper. Pexels. Retrieved 14 June 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s