Jembatan Putus

Leave a comment
Kreativitas / Puisi

Terjuntai jembatan yang telah lama putus di bibir tebing.
Seperti biasa, pagi ini pun embun tidak lupa menepuk pundak lapuhnya.
Sejuk membuai sengat pada setiap sendi.
Kayu renta dimakan usia, tergelitik dikala tetes demi tetes air embun dengan penuh simpati dan senyum basi-basi mengaliri rongga pembuluh yang sudi membuka diri.

Satu waktu menggandakan dirinya untuk tidak bersendiri.
Namun tidaklah kemudian lalu dia menjadi dua, melainkan terjadilah durasi.
Waktu yang tadinya ingin berkawan harus menghentikan dirinya sendiri untuk dapat bertalian pada waktu yang lain.
Dalam durasi yang senantiasa menarik diri.
Takdirlah yang menjadikannya untuk selalu bersiap diri.

Ditengah durasi yang sedang memanjang, arahnya selalulah kedepan.
Layaknya kawan lama, sinar matahari pun setia menyertai langkahnya dalam perjalanan ini.
Seperti embun yang tidak pernah lupa bertamu.
Disapanya kayu agar tidak terus-menerus lembab.
Dipeliharanya jembatan lapuh itu agar tidak segera menjadi hancur.
Dalam durasi, kita bersama lagi berkawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s