Dalam Iboe, Pahlawan di Hati Kami

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Foto / Update Status

Tanpa berniat membangga-banggakan diri, dengan segenap hati saya menorehkan sedikit perjalanan orang yang juga penting di dalam hidup saya, sebagai bentuk cinta dan penghargaan saya terhadapnya; juga sebagai ibu, buyut, guru, teman, sejawat dan saudara bagi siapapun yang mengenalnya di masa hidupnya.

Setiap keluarga mempunyai sejarah, kami pun sama.
Setiap ibu adalah pahlawan, kami pun menyaksikan.

Atu dan Papah

Atu dan Papah

Dalam Iboe (Kota Agung, 13 Mei 1913 – Bandar Lampung, 13 Desember 1999) adalah nenek atau kami cucu-cucunya biasa memanggilnya dengan panggilan “atu sebai”. Sosoknya yang kharismatik, dispilin dan tegas tidaklah lepas dari ingatan, melekat bagaikan pelita, terus hadir sebagai derap semangat dikala kami luput dan lelah. Betapa kami mencintainya, betapa kami merindukannya, betapa kami ingin kembali berjumpa. Mendegar suara dan bahasanya, mencerminkan nilai-nilai luhur yang kokoh dipegangnya sebagai junjungan hidup. Sosok yang begitu kuat diingatan, nenek yang selalu merapikan seragam sekolah saya, menarik rok saya sampai persis di atas panggul, mencium kening dan kedua pipi saya dalam-dalam setiap akan pergi ke sekolah, harum bedaknya wangi mengantarkan saya sampai ke depan rumah menunggu mobil jemputan menghampiri. Ia mengajarkan saya berpantun, berhitung, menghafal doa dengan suaranya yang lantang. Terima kasih untuk selalu percaya kepada saya, walupun saya hanyalah seorang cucu yang penakut dan tidak pernah juara kelas, walaupun sering kali disetrap di sekolah karena tidak hafal tugas. Kenakalan-kenakalan disaat saya kecil membuat saya semakin merindukannya.

Dibalik halusnya hati seorang perempuan yang sering kali gelisah, ia mendaki harapan. Lahir sebagai anak kedua dari pasangan Bakrie Gelar Pangeran Warga Ratu dan Fatimah Binti Jayo. Saat itu masih kental sekali keadaan dimana keberadaan seorang perempuan masih kurang dihargai dibandingkan dengan laki-laki. Atu dan kakak perempuannya disekolahkan asrama oleh paman mereka sampai ke Padang. Sepulangnya dari Padang atu menjadi seorang guru di Tulang Bawang. Kemudian menjabat sebagai kepala sekolah di Sekolah Rakjat No.6 Tanjung Karang dan aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaeinisme.

Ia memiliki 7 orang anak dari suaminya Sjamsoeddin Ngabehi Singagerda. Ayah saya merupakan anak kelima, bungsu laki-laki sekaligus kakak untuk dua adik perempuan. Setelah suaminya meninggal (1969), ia pun harus berjuang menghidupi anak-anaknya sampai selesai sekolah. Sebagai seorang perempuan dengan segala proses perjalanan hidupnya, tidak heran mengapa atu yang saya kenal memiliki karakter yang sangat kuat.

Berikut ini saya bagikan peninggalan koleksi foto milik atu yang cukup penting. Foto-foto ini cukup lama dimana ayah saya masih sangat muda dan atu masih aktif bekerja. Yang pertama adalah kumpulan foto bersama keluarga :

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, kumpulan foto bersama murid, sejawat dan teman-teman dalam partainya :

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s