Tulisan dan Buku yang Membosankan

Leave a comment
Update Status

Hi, blog ini sepertinya banyak diisi oleh tulisan yang sangat membosankan. Belum lagi sebulan ini saya mendapat banyak masukan tetang pilihan yang harus saya tentukan segera, dan itu tidaklah mudah. Saat ini saya sedang dalam proses berbenah segala halnya sekaligus berserah diri kepada Allah. Ini menyangkut keputusan pribadi sehingga ketidak produktifan saya dalam menulis mudah-mudahan tidaklah menjadi sia-sia.

Sering kali saya mengulas atau bahkan terinspirasi dari apa yang saya lihat dan dengarkan, mulai dari buku yang saya baca, film dan video yang saya tonton, dan juga aktifitas lainnya. Tema yang menarik perhatian saya adalah kondisi manusia khususnya dalam hal spiritualitas. Menjawab alasan mengapa saya kurang bergairah saat harus bicara science. Padahal itu adalah bidang yang saya geluti bertahun-tahun lamanya. Seorang idealis yang harus menerima realita. Pemimpi yang tidak mau bangun, mampu membayangkan namun enggan mewujudkannya.

Memang spritual dan logis sangat mungkin untuk dapat saling beriringan. Alangkah irinya saya terhadap mereka yang mampu menggenggam keduanya seakan dirinya adalah manusia sejati.

Membaca buku filsafat dan agama seolah menghampas dahaga ditengah keringnya science. Namun kenyataan kembali memanggil, sehingga buku yang saya baca akhir-akhir ini: Logika Praktis oleh Abdul Hadi Fadli, Biokimia Saraf oleh Saryono dan Joko Setyono, In The Beginning Was Information oleh Werner Gitt (gambar a). Buku filsafat harus saya pending sebab ada satu dan lain hal yang menggegas saya untuk melakukannya.

Sukurnya saya telah habis membaca Republik oleh Plato dan saat ini sedang mencuri-curi waktu menghabiskan Tafsir Al-Azhar Juz III oleh Hamka (gambar b).

Bicara tentang Republik, saya mendapatkan banyak moment “wow” saat membacanya. Pertama sebab itu adalah salah satu peninggalan penting dalam sejarah, membayangkan buku tersebut diterbitkan pada 380 BC saja sudah bikin saya merinding. Kedua, mendapatkan fakta bahwa ketajaman berfikir manusia modern dan manusia di zaman Plato ternyata tidaklah berbeda. Mengenai keyakianan Socrates akan keagungan bentuk-bentuk keadilan, membuat dialog antara dia dan teman-temannya berkelana jauh sampai kepada bentuk republik dalam utopia mereka. Saya pribadi percaya pada keadilan, namun sangat sulit untuk mempercayai manusia.

Mungkin sekian dulu, sampai pada tulisan berikutnya 🙂 !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s