Keberhubungan Manusia Part.2

Leave a comment
Renung / Sejenak

Ditengah perkembangan ilmu pengetahuan yang oleh Gaston Bachelard tandai dengan adanya keretakan-keretakan epistemologis dan potensi abstraksi. Dikatakan bahwa objek dikonstruksikan, sebab itu ilmu pengetahuan modern harus dimengerti secara dialektis. Walaupun kata “objek dikonstruksikan” mengandung makna adanya dominasi peran subjek. Namun masih saja menjadi pembahasan mengenai arah abstraksi yang sesungguhnya, apakah semakin ke objek atau malah ke subjek, manusia yg terbawa arus atau manusia mampu mengarahkan arus. Contohnya kesangsian Michael Focault pada objektivisasi yang selama ini digunakan oleh kaum positivisme sebagai cara pandang, sebab penjabarannya mengenai kuasa yang artinya Focault berpihak kepada subjektivitas dengan alasan pengetahuan mempunyai peran kuasa.

Untuk melihat arah abstraksi, mungkin kita dapat merujuk kepada sejarah. Manusia memiliki sejarah tanpa tahu dengan pasti apakah sejauh ini kita telah benar-benar berubah menjadi manusia yang lebih baik dari manusia di masa lalu. Mengingat aspek historis dan ahistoris dimana Levi Strauss sebagai salah satu filusuf yang juga tertarik pada sejarah, mengemukakan tidak adanya perbedaan prinsipil antara pemikiran dalam masyarakat primitif dan pemikiran kita sekarang ini — sebagai referensi tambahan yang tidak kalah penting pelajari pemikiran Karl Jaspers dalam bukunya The Origin and Goal of History. Jika kita memandang secara keseluruhan maka aspek ahistoris akan muncul kepermukaan. Sedangkan aspek historis menggambarkan perjalanan kearah kesatuan manusia. Perkembangan komunikasi antar manusia saat ini semakin terbebaskan, belum lagi jika terdapat pergerakan menuju keadilan yang merata (di sini faktor intelektualitas diperlukan), permasalahannya hanya tingal kepada jalan mana yang dipilih, kebaikan atau keburukan. Ahistoris merupakan contoh ketidak berdayaan. Bukti manusia bukanlah pengarah dunia, meski manusia sendirilah yang mengarahkan dunia(-nya).

Manusia bisa saling mempengaruhi, oleh sebab itu mereka bisa menjadi satu. Kita hanya benar jika semua menghadap kepada yg benar. Mustahil. Perkara akhir zaman adalah kezaliman yang memuncak.

Konsep Marxist memberi peran istimewa kepada materi. Penempatan materi di posisi istimewa itulah yang menjadi permasalahannya. Sebab itu harus diubah. Langkah awal yaitu pemindahan titik-berat dari materi menjadi manusia sebagai individu yang sedemikian hingga dibentuk agar mumpuni berlaku sebagai mahluk sosial. Kebutuhan manusia akan dapat terpenuhi jika manusia dapat berkomunikasi atau berhubungan satu sama lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Sebagai alat ukur keberadaban hubungan sosial tersebut maka ada baiknya kita kibarkan kembali bendera keadilan yang senantiasa Plato tancapkan di atas puncak Athena.

Di zaman literasi, sejarah seolah dibarengi oleh perdebatan panjang tentang posisi manusia, keberadaannya saat ini, sampai dengan tujuan akhirnya. Kebingungan akan kaitan sejarah, filsafat dan perkembangan ilmu pengetahuan yang kian abstrak menyebabkan pemborosan waktu. Akibatnya lama (manfaatnya) sampai ke masyarakat. Produk-produk yang tercipta pun menjadi kian abstrak, mencoba menembus batas-batas pemikiran. Intelektulalitas diecerkan dan berkembang pesat, menjual mimpi tentang kesejahteraan manusia yang merata. Nyatanya, manusia tidak tentu arah, kesenjangan semakin menjadi, penindasan terjadi dimana-mana, sedangkan waktu terus berjalan. Abstraksi diarahkan kepada subjek — kepada ego, hingga akhirnya sampai pada tingkat kejenuhan yang memihak.

Jika sampai pada titik kejenuhan tersebut, saat itu manusia kembali mencari jalan kebenaran. Menjalani hakikat keberadaanya, bukan melulu mengatas namakan persepsinya akan dunia. Sehingga waktu diisi dengan kebenaran, tidak ada yang dikorbankan sebab kelalaiannya, waktu tidak diboroskan. Mereka membuat suatu design yang berdaya guna untuk mencukupi kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia. Kira-kira seperti itulah utopianya oleh sebab sifat manusia yang tidak lepas dari bias. Namun tidak ada salahnya sejak saat ini kita bercita-cita membangun utopia sebelum wajah kebenaran itu menampakkan dirinya di saat kondisi kita telah benar-benar hancur berantakan, sebelum kita kehabisan energi untuk dapat menjalankan yang apa semestinya, sebelum kita sudah benar-benar kehabisan waktu.

Dengan rambu-rambu firman. Tanpa itu manusia buta arah.

Intelektual bukanlah tujuan tetapi kepatuhan akan perintah Tuhanlah yang harus didengarkan. Intelektual menempati posisi sebagai alat bantu. Untuk memahami hukum alam dengan benar hingga kita dapat menghargai, memelihara dan memanfaatkan alam dengan bijaksana. Jadilah sahabat, bukan pencuri.

Demikianlah sesungguhnya, dimana kita bisa saja memperdebatkan arah abstraksi yang berasal dari diri atau yang menghampiri diri. Kendati demikian bisa jadi keduanya benar. Kita semua saling berhubungan sebab memiliki kekuatan tarik menarik antar mahluk. Manusia ada tidak hanya sebagai pengamat, namun ada pula mahluk lain yang mengamati. Bukan hanya manusia yang dapat menampakkan dirinya, namun ada pula mahluk lain yang mampu menampakkan dirinya. Setiap eksistensi diri tersebut saling berinteraksi satu sama lain melalui benturan-benturan dalam zona.

Dalam benturan-benturan inilah yang kemudian saya namakan distraksi keputusan. Subjek dan objek sama-sama menampakkan diri. Keputusan A bisa tetap menjadi A, namun bisa juga berubah menjadi B. Keputusan subjek (diinterupsi) terlebih dahulu melalui tahapan distraksi yang timbul akibat terdapatnya daya penampakkan diri oleh objek. Seperti halnya dialog antar manusia dengan manusia, maka dialog antar manusia dengan mahluk pun bisa terjadi. Siapa pun yang memiliki daya penampakan yang lebih kuat, maka keputusan akan cenderung memihak kepadanya. Manusia dan manusia sama kuatnya, maka yang “benar” adalah yang kuat. Sebab kebernaran akan selalu tampak.

Manusia memiliki kebebasan dalam berkeputusan– walaupun tidak benar-benar dalam keadaan bebas (sebab manusia tidak berdaya dihadapan pemilik segala keputusan). Hakikatnya adalah untuk dapat mengolah dunia dengan penuh kesadaran dan ketundukkan (baca QS Al-Jatsiyah [45]: 13). Sadar dan tunduk itu sendiri tidak lain berasal dari keputusan yang berakal-sehat.

Baca tulisan sebelumnya: Keberhubungan Manusia Part.1.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s