Membumikan Al-Quran: Jalan Menuju Pemahaman

comment 1
Resensi / Resensi Buku

Akhirnya bisa menyelesaikan buku ini. Bagi saya yang memiliki hati yang sering kali kotor, membaca buku “baik-baik” menjadi tantangan tersendiri. Butuh waktu hampir 1 tahun untuk menyelesaikannya. Buku ini termasuk buku yang paling sering saya seling dengan bacaan yang lainnya untuk mengurangi kejenuhan. Belum lagi tebalnya 661 halaman, memaksa saya menjadi anak baik-baik untuk duduk dimeja yang baik-baik pula. Cukup sulit jika anda ingin memangkunya di dada anda jika anda ingin membacanya sambil berbaring — apalagi jika anda memiliki versi hardcover-nya.

Sebenarnya ada versi lain dari buku ini yang jauh lebih tipis dengan tebal sekitar 500 halaman sebab jenis kertas dan text font-nya yang berbeda. Namun versi tersebut adalah cetakan lama yang saya ketahui dari koleksi buku milik almarhum paman saya. Buku cetakan lama tersebut sempat saya pinjam saat beliau masih hidup, namun terpaksa harus saya kembalikan karena alasan: buku bagus harus dimiliki. Sayangnya buku ini tidak saya temukan di Bandar Lampung, sehingga saya harus mencarinya di toko buku Palasari Bandung sekitar bulan April 2015 kemarin.

FullSizeRender

Membumikan Al-Quran karangan M. Quraish Shihab ini bagi saya termasuk dalam buku penting atau bahkan iconic dibidangnya. Saya pribadi memilih buku ini sebagai pengantar terhadap pendalaman Islam itu sendiri berdasarkan tuntunan kitab — setidaknya merupakan wujud apa yang ingin Quraish sarikan kepada kita.

Membumikan Al-Quran terdiri atas dua bagian. Bagian pertama membahas tentang Gagasan Al-Quran yang mambahas tentang pembuktian kebenaran Al-Quran, sejarah dan problematika tafsir, kemudian tentang pembudayaan yang erat kaitannya dengan masalah pendidikan. Bagian kedua membahas tentang Amalan Al-Quran yang membahas tentang jalan pengamalan Al-Quran itu sendiri.

Buku ini seolah mengajak kita untuk menjadi khalifah yang sesungguhnya. Adanya sentuhan-sentuhan filsafat yang ikut menengahi memberikan pandangan tersendiri sehingga perspektif penulis dapat kita selami. Belum lagi segi kebahasaannya yang selalu mawas menampakkan pribadi penulis yang serba hati-hati. Hal ini membuat pandangan kita semakin terbuka, namun dengan cara yang khidmat dan penuh kewaspadaan pula. Tidak heran jika orang mengatakan bahwa semakin berilmu seseorang, maka semakin terdiamlah dia dan semakin terjagalah lisannya, sebab perang di atas kepalanya sedang berlangsung dan terdapatnya kesadaran akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Hakekat Ruh oleh Ibnul Qayyim: Tentang Kehidupan Setelah Kematian – Uppeti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s