Tetap Produktif Diwaktu Sendiri

Leave a comment
Renung / Sejenak

Terbiasa dengan waktu sendiri sebenarnya bukan hal yang perlu terlalu dikhawatirkan. Memang benar, bagi sebagian orang mungkin akan kesulitan jika harus berlama-lama menyendiri sebab dibutuhkan segenap kekuatan untuk selalu berfikir positif disaat sedang sendiri, dibutuhkan kreativitas untuk menciptakan kedinamisan disetiap waktunya.

Manusia membutuhkan jeda dalam hidupnya. Fungsinya untuk kembali mempertanyakan kembali keberadaan diri dengan cara menghayati dan bersentuhan dengan semesta alam (terutama lingkungan disekitar kita), mereview masa lalu agar dapat memetakan masa depan, mempelajari hal lain yang belum pernah kita ketahui sebelumnya untuk menggali potensi diri, bersentuhan dengan dunia luar yang asing untuk menyaksikan keberagaman sehingga kita dapat mengenal akan adanya kesatuan hakiki dari segala perbedaan.

Waktu sendiri dalam hal ini bukan berarti benar-benar menyendiri, tetapi lebih kepada keberadaan diri kita pada segala sesuatu dimana kita berasal, misalnya keluarga, lalu menyusul lainnya yaitu teman dekat dan teman-teman di masa lalu kita. Namun saya lebih menekankan kepada keluarga (terutama ibu) dimana keluarga adalah tempat kita dapat melepaskan diri apa-adanya, sebab mereka menerima kita sebagaimana pula adanya. Selain itu, pengenalan terhadap keluarga juga menjadikan kita lebih dapat menghargai mereka yang artinya kita menghargai apa yang kita miliki. Kejadian pelepasan dan penerimaan itulah yang menjadi syarat pemahaman tentang asal-usul yang juga erat kaitannya dalam hal pengenalan diri. Kenali diri ini lalu pahami keberadaanya. Pemahaman diri adalah syarat keberlangsungan hidup manusia. Menyusun kembali bongkahan-bongkahan hakikat diri yang tercecer adalah jalan perbekalan untuk dapat menghadirkan diri ini kepada Sang Pencipta. Dengan kehadiran yang terjaga, manusia memiliki tujuannya. Berbahagialah manusia yang dapat meraih tujuannya, meraih perhatian Illahi.

Zaman yang serba dituntut produktif ini seperti tidak menghargai waktu sendiri. Membaca buku picisan dianggap kurang berbobot jika dibandingkan membaca buku scientific padahal keduanya sama-sama imajinatif dengan caranya masing-masing, mengambil cuti liburan dianggap kurang pengabdian kepada pekerjaan yang sedang dijalani padahal liburan dapat melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bisa jadi dibutuhkan bagi pekerjaan tersebut, melamun dianggap pekerjaan sia-sia padahal tarik-menarik antara ide dan dunia luar ada pada alam yang dinamakan alam fikir. Apa yang sebenarnya terjadi? kepada siapakah kita memperbudak diri?

Sebenarnya tidak ada yang perlu kita resahkan selama kita dapat terus menjaga hubungan dengan Sang Pengatur segalanya. Bukankah sejatinya kebahagaian datang dari keimanan? Setiap jalan bagaimanapun rupanya (mulus, berbatu, curam, landai, menanjak, berliku, bertebing, atau bahkan terputus) adalah sebuah jalan menuju jalan yang lain. Dengan terjaganya hubungan dengan Sang Pengatur niscaya timbul kepercayaan akan keputusan dan kebijaksanaan-Nya, dengan terjaganya hubungan tersebut kita dapat menikmati yang apa yang ada di depan mata dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Ambisi berlebihan dapat mematikan rasa, sehingga kita sulit mendengar apa yang esensi dalam kehidupan ini, atau apa fungsi dirimu yang sebenar-benarnya dalam kehidupan (dunia) ini.

Setiap orang mempunyai caranya sendiri dalam menyikapi waktu sendirinya. Berikut ini beberapa hal yang biasa saya lakukan jika sedang menyendiri :

Menghadap.

Bersama ibu.

Membaca. Kegiatan ini bukan hobi pertama saya, melainkan tumbuh dengan sendirinya seiring perjalanan. Sejak kecil saya hanya membaca komik seperti kebanyakan anak lainnya, sedangkan di bangku kuliah bisa dibilang hanya tertarik oleh sebagian kecil buku-buku puisi di toko buku Nalar, Jatinangor. Saat ini saya sedang menggemari filsafat. Dan sampai saat ini juga, masih sedikit sekali novel fiksi yang saya baca — untuk fiksi saya memilih menonton film sebab lebih menghemat waktu. Namun kadang kali fiksi bisa dijadikan pilihan jika penulisnya adalah seorang filusuf terkemuka atas dasar ingin lebih menyelami pemikirannya yang diaplikasikanya melalui sebuah cerita. Lihat profil Goodread saya.

Musik. Seperti yang pernah saya tulis dalam blog ini sebelumnya disini dan disini, saya mengenal musik semenjak duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar sedangkan mulai mengkoleksi kaset dikelas 2 sekolah dasar. Pada saat itu genre musik yang sering saya dengar adalah genre musik yang sering ibu saya dengarkan, yaitu classic dan pop tahun 50-an sampai tahun 60-an. Yup, saat itu saya sering bermain dengan kaset koleksi ibu. Dan semenjak itulah musik seperti tidak pernah lepas ditelinga saya. Lihat profil last.fm saya. Selain mendegarkan musik, terkadang bermusik juga dapat menjadi pilihan.

Menulis. Sama halnya dengan membaca, kegitan menulis saya berkembang seiring perjalanan juga. Saya mulai menulis puisi semenjak SMA, sayangnya koleksi saya waktu itu banyak yang terbuang karena merasa malu mempunyai hobi seperti itu (waktu itu saya belum bisa menghargai puisi). Kemudian kemampuan saya bernarasi berkembang seiring dengan kegiatan membaca, lucunya kepenulisan saya dimulai dengan kepenulisan dibidang farmasi. Namun berawal dari latar belakang puisi dan scientific itulah kemudian saya berlatih untuk memadukan unsur keduanya dalam sebuah tulisan. Seperti kebanyakan orang bilang bahwa ada linieritas antara intensitas membaca dengan produktifitas menulis. Apa yang kita baca, apa yang kita tulis, apa diri kita.

Youtube atau menonton film. Menoton youtube lebih rutin saya lakukan dibandingkan menonton film dengan alasan aktualitasnya. Selain kebaruan, youtube juga menyediakan interaksi. Melalui kesaksian tersebut maka disanalah kita mendapati pemikiran-pemikiran baru pula. Selain youtube, menonton film juga salah satu hobi yang cukup rutin saya kerjakan. Melalui film kita mendapati kompleksitas dan simbol-simbol kehidupan. Lihat profil IMDB saya.

Tenis. Dari sinilah hal yang tadinya bukan merupakan sesuatu baru bagi saya kini kembali menjadi sesuatu yang baru bagi saya. Lihat tulisan tentang ini.

Melukis. Saya bukan pelukis profesional, menggambarkan perspektif ruang saja saya tidak sensitif. Melukis bagi saya dilakukan hanya sebagai pelepasan.

Jalan-jalan: museum dan perpustakaan. Terus-terang, saya cukup penakut bila harus pergi sendirian ke alam lepas seperti ke gunung, pantai, atau tempat-tempat wisata alam lainnya. Mungkin belum, tetapi inilah yang terjadi. Saya lebih menyukai museum dan perpustakaan, terasa lebih hening dan aman. Kendati demikian kegiatan ini bisa dikatakan kecil intensitasnya jika dibandingkan 8 poin diatas.

Lalu kegiatan apakah yang sering anda lakukan ketika sedang ingin menyendiri?


Figure

Featured Image. Person Woman Glass Female 28482. Pexels. Retrieved 14 June 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s