Rasio Emosi Dalam Seni Lukis Abstract Expressionism

comment 1
Resensi / Resensi Lukisan

Awal mengapa saya menyukai seni lukis adalah unsur kebebasannya yang (menurut saya) tidak pernah benar-benar bebas. Lepasan-lepasan dialek dengan bahasa penuh makna tersebut diungkapkan oleh seniman dalam torehan di sebuah kanvas. Karya tersebut mampu merasuki siapapun yang pasrah menyerahkan dirinya, mengizinkan diri ini masuk ke dalam alam yang sama dengan alam yang peciptanya alami sebelumnya.

Abstrak bagi saya termasuk dalam kategori karya seni otonom, dimana pada proses penciptaanya selalu mengarah pada diri senimannya atau cendrung pada subjektifitasnya. Biarpun karya tersebut ingin menunjukkan alam disekitar misalnya, namun persepsinya tetaplah subjektif. Kendati demikian, saya menyakini adanya faham ambiguitas yang mampu menjelaskan secara terperinci kompleksifitas subjek dan objek sekaligus. Dinyatakannya bahwa luas persepsi (subjektif) tercipta akibat adanya tarik-menarik interaksi antara subjek yang mempersepsikan objek dan objek yang menampakkan diri kepada subjek. Atau dengan kata lain, adanya interaksi antara manusia sebagai subjek terhadap objek dan manusia sebagai objek terhadap subjek yang lain.

Dengan adanya campur tangan objek yang menampakkan dirinya sebagai subjek yang lain maka cukuplah itu menjadikannya bukti akan adanya batasan kebebasan manusia itu sendiri. Objek tidak dimiliki oleh manusia, ia memiliki haknya sendiri. Jika manusia meninggikan kesubjektifitasannya tanpa menghiraukan keberadaan objek, maka terjadilah penciptaan yang tidak patuh terhadap hukum alam, awal kehancuran atau penciptaan yang mustahil. Hal inilah yang menjadi dasar opini bahwa kebebasan manusia hanyalah tipuan subjek (tidak pernah benar-benar subjektif). Faham ambiguitas menunjukkan bahwa manusia tidaklah berdaya dihadapan Subjek Absolut — yang memiliki kewenangan penuh terhadap segala objek, pemilik segala objek.

Manusia berhak untuk menentukan arah tuju, jika arah tersebut mengarah kepada yang positif maka ia yang berlaku sebagai objek sedang berusaha menampakkan dirinya terhadap Subjek Absolut, upaya tersebut adalah jalan manusia untuk dapat berkomunikasi atau hadir untuk meminta.

Kepelikan persoalan kebebasan inilah yang menjadi sebab mengapa saya mengagumi dan ingin lebih mempersempit cakupan tela’ah kebebasan manusia tersebut terbatas hanya pada lukisan abstract expressionism. Jenis lukisan ini cendrung subjektif, itulah sebab mengapa bentuknya tidak konkret melainkan abstrak.

1926 footage by Hans Curlis of Wassily Kandinsky at work. #wassilykandinsky

A post shared by Josh Jefferson / Artist (@chicojefferson) on

***

Buzzfeed (internet media company yang memiliki banyak followers diseluruh dunia) pernah mengupload video dengan topik menarik mengenai pandangan awam tentang perbedaan Modern Art dan Kid Art. Dalam video tersebut sebenarnya bisa terlihat adanya perbedaan antara Modern Art dan Kid Art yang letaknya ada pada pemahaman (keluasan) si pelukisnya. Pemahaman pada orang dewasa (dalam hal ini seniman Modern Art) dan anak-anak tentu berbeda akibat pengalaman masing-masing individu yang berbeda pula. Itulah sebab mengapa banyak seniman (baik penulis, ilmuan, dll — yang notabene semuanya saya kategorikan sebagai seniman) haus akan pengalaman.

Dengan pengalaman, kita mendapati bukti. Terdapat 3 jenis bukti yaitu bukti langsung (bukti yang langsung dialami oleh subjek), bukti tidak langsung (bukti yang dialami oleh subjek yang lain namun diyakini keberadaannya oleh subjek penerima; contohnya saat seseorang belajar lalu begitu saja meyakini kebenaran sebuah teori), dan bukti abstrak (bukti yang bentuk konkretnya tidak terlihat atau hanya ada di alam fikir namun dirasakan keberadaanya; contohnya saat seorang ilmuan menciptakan hipotesa tentang hukum alam). Bukti-bukti tersebut dapat menimbulkan rasa pada yang mengalami. Rasa timbul akibat perspektif dalam subjek yang menerima — lihat tentang faham ambiguitas tadi. Sedangkan perspektif saat ini dapat bertumpuk dengan perspektif masa lalu. Sehingga orang yang memiliki banyak pengalaman memiliki banyak perspektif pula, pandangannya semakin luas, memiliki ketajaman rasa, dan mendekati kebenaran.

Figure. Ad Reinhardt, Abstract Painting, 1960-65.

Jika ketajaman rasa dialami oleh seseorang maka resikonya adalah tumbulnya emosi. Semakin emosional ia, semakin memberontak pulalah jiwanya. Jangan salah artikan bahwa emosi adalah melulu sebagai yang negatif karena nyatanya tidak demikian, bukan emosi yang memberi arah negatif atau positif melainkan arah tuju itu sendiri. Lukisan Reinhardt dibandingkan dengan lukisan Kandinsky misalnya, memberikan gambaran jelas akan adanya perbedaan arah emosi tersebut. Keduanya sama-sama memiliki emosi, keduanya sama-sama memberontak. Kuncinya ada pada bentuk kekacauan yang dimilikinya. Dimana semakin emosional akan semakin kacau, sebaliknya jika kurang emosional maka akan semakin teratur. Tanda kekacuan itu adalah adanya variasi; namun tidak berhenti sampai di situ saja, komponen penting lainnya adalah ketegasan yang berulang. Ketegasan yang berulang menandakan arah tuju. Sehingga kecauan kadang tersembunyi dibalik keteraturan yang dicirikan adanya ketegasan yang berulang yang menyorot mata. Dalam lukian ia berusaha menutupi dirinya dengan cara berlaku tidak jujur. Terdapat emosi yang ditekan, sehingga bukan lagi pengrusakan yang diberikan melainkan lebih buruk dari itu; yaitu keputusasaan dan depresi yang arahnya tentu saja negatif.

Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya bahwa emosi dimiliki seseorang yang dapat merasa, dimana orang tersebut adalah orang yang juga memiliki banyak pengalaman. Pengalaman mencerminkan keluasan sehingga dengan pengalaman, arah pandang seseorang akan semakin terbuka. Dengan keterbukaan itu ia dapat melihat yang hakiki. Sehingga ia dapat menggambarkan bagaimana rupa positif dan bagaimana rupa negatif — yang pada akhirnya akan mengarah kepada yang positif juga — dalam perspektif yang luas. Ini berarti bahwa bagi seseorang yang memiliki perspektif luas, arah tuju negatif bisa dikatakan tidak ada.

***

Seorang pelukis yang memiliki banyak pengalaman akan sering memberontak. Perbuatan tersebut dapat dibuktikan dengan torehan yang ada pada lukisannya. Jika demikian, sikap berontak adalah hakiki pada diri manusia yang mengharuskan dirinya untuk memberi keputusan. Sekali lagi saya ingatkan, bahwa bukan berontak yang memberi arah negatif atau positif melainkan arah tuju itu sendiri.

Intensitas emosi menjadi landasan tentang bagaimana wujud pemberontakan nantinya. Inilah yang menjadi alasan mengapa keputusan-keputusan yang diambil memiliki dasar rasio. Rasio pada anak kecil akan berbeda dengan rasio pada orang dewasa. Tidak banyak ditemui pemberontakan sekaligus ketegasan pada lukisan anak kecil, sedangkan akan ada banyak pemberontakan sekaligus ketegasan pada lukisan orang dewasa yang menjadi ciri kompleksitas dan keberulangan. Wujud pemberontakan berbanding lurus dengan variasi dan intensitas. Di siniliah letak perbedaan lukisan orang dewasa dengan anak kecil yang coretannya cenderung kurang variatif (monoton) dan kecilnya variabel ketegasan yang berulang akibat arah tuju yang tidak mendekati unjung pangkal. Sama halnya dengan cara pandang yang sempit namun lebih jujur.

Setiap keputusan memiliki dasar rasio, atau dalam hal ini sebut saja sebagai Rasio Emosi (RE). Fungsinya memberikan keputusan-keputusan pada sebuah garis lurus, seperti kapan waktunya berbelok atau berhenti tanpa menghilangkan faktor intensitas.

Jika sewaktu-waktu anda bertemu dengan orang-orang ini: orang gila setelah dewasa, orang gila sedari kecil, orang yang memakai drugs, anak kecil, orang dewasa dengan sedikit pengalaman, orang dewasa dengan banyak pengalaman, dan alim ulama (atau spiritualis); mintalah mereka untuk menggambarkan sesuatu (kalau bisa seragam abstrak), lalu bandingkan untuk melihat dimana letak perbedaanya.

Terdapat banyak persepsi tentang kebebasan, persepsi tersebut bergantung pada profil masing-masing subjek. Misalnya orang gila yang cenderung memberontak ditengah dirinya yang juga harus memperjuangkan rasio. Sebaliknya, manusia sehat mencari pemberontakan untuk berpetualang rasa. Jika abstract expressionism memiliki komponen rasio, ada kemungkinan insidensinya dapat diperkirakan melalui perhitungan dengan mempertimbangkan subjek berdasarkan pengalaman.

Namun bagaimanapun itu, rasio sama artinya dengan sebuah perangkap. Sesubjektif apapun manusia tetaplah ia berada dalam lingkup kebebasan yang terperangkap.


Figure

Figure. Ad Reinhardt, Abstract Painting, 1960-65, Lannan Foundation, Los Angeles © VG Bild-Kunst, Bonn, 2006. “Black Paintings”. Haus der Kunst. Retrieved 12 May 2016.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Kehendak Menuju Langit – Uppeti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s