Sejarah Filsafat Kontemporer Bertens Part.2

Leave a comment
Resensi / Resensi Buku

Setelah membaca jilid I buku karangan Bertens yang telah saya review sebelumnya di blog ini dengan judul Sejarah Filsafat Kontemporer Bertens Part.1, buku jilid II ini relatif lebih lambat saya baca. Entah karena kebiasaan saya menyalip buku satu dengan buku yang lainnya untuk menyiasati rasa jenuh saat harus membaca satu buku dalam satu waktu, atau lebih kepada perbedaan bahasan yang menandai masing-masing jilid. Tanpa mengurangi kebaikan dari kedua buku tersebut, anda akan menemui perbedaan cara analisa yang menonjol. Dalam hal ini saya tekankan bahwa bukan berarti gaya menulis Bertens yang berubah-ubah, melainkan analisa dan gaya bahasa filsafat keduanya yang memang berbeda. Inggris-Jerman lebih rumit, kompleks dan bertumpuk dalam memaparkan segala sesuatunya sehingga saya lebih merasa tertantang dengan gaya bahasa dan analisa mereka, sedangkan Prancis sering sekali menggunakan bahasa yang lebih sederhana yang tentunya sudah menjadi ciri tersendiri bagi filsafat Prancis.

Biar pun begitu, kedua jilid buku ini sama-sama mengenyangkan dan pujian untuk Bertens atas buku-buku karangannya yang sangat rapih dalam penalaran sehingga mempermudah kita sebagai pembaca untuk dapat lebih memahami sejarah dan pemikiran filsafat.

IMG_0761

Membaca disaat sedang mati lampu.

Tidak semua filusuf Prancis menggunakan gaya bahasa sederhana, contohnya Lacan yang menulis dengan cara serba-sulit. Penulisan tersebut sengaja dipraktekkannya karena ia menaruh curiga terhadap cara menulis yang jelas dan jernih. Lacan seolah memberikan kesan bahwa gaya bahasa yang penuh suasana misteri itu harus “mengamankan” pemikirannya terhadap penyalahgunaan oleh pihak yang tidak berkepentingan, seperti telah terjadi dengan karangan Freud.[1]

Filsafat Inggris pada umumnya tidak begitu terpengaruh oleh wilayah bahasa yang lain. Sehingga dapat dikatakan sebagai zona terisolasi. Sedangkan filsafat Jerman lebih orisinil dan lebih menonjol dalam menghasilkan gagasan-gagasan baru. Filsafat Prancis memiliki keunggulan untuk mengolah dalam-dalam dan menarik konsekuensi-konsekuensi serba luas dari pikiran-pikiran yang pertama kali dikemukakan di Jerman. Karena itu jika kita ingin berkenalan dengan pemikiran filosofis dewasa ini, jalan yang tepat ialah mempelajari filsafat Prancis sesudah filsafat Jeman. Kemudian Amerika Serikat harus dilukiskan agak kebelakang sebab filsafat Amerika banyak menyibukkan diri dengan pikiran-pikiran yang datang dari Eropa.[2]

Seperti dikemukakan sebelumnya, filsafat Prancis merumuskan pemikirannya dengan jelas dan cermat. Tidak jarang filusuf-fillusuf Prancis bercita-cita untuk mencapai taraf penjelasan yang sama terang dan pasti seperti dalam ilmu pasti (terutama Descrates). Aliran-aliran filosofis yang khas bagi filsafat Prancis dapat disebut rasionalisme dan spiritualisme. Dalam hal ini rasionalisme tidak terlepas dari spiritualisme, karena corak rohani manusia terutama harus dicari dalam rasionalitasnya. Di Prancis pula terdapat perkaitan khusus antara filsafat dan kesusastraan. Cukup banyak filusuf Prancis diakui sebagai sastrawan besar (Bergson, Camus, dan Sartre).[2]

Sebagai pemula saya sangat bersyukur bertemu dengan buku ini. Mengantarkan saya pada banyak pemikiran beberapa filusuf terkemuka yang telah mampu membuka cakrawala dibanyak kalangan pada zamannya. Terima kasih Bertens.


References

[1]: Bertens, K. (2014). “Sejarah Filsafat Kontemporer Prancis Jilid II”. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

[2]: Bertens, K. (2014). “Sejarah Filsafat Kontemporer Inggris dan Jerman Jilid I”. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s