Keberhubungan Manusia Part.1

comment 1
Renung / Sejenak

Masih banyak hal yang belum terjawab tentang apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Menjadi pertanyaan tentang sejauh mana kemampuan manusia memahami dirinya yang sebenarnya. Batasan-batasan apa yang harus diamini dengan segenap iman agar kita dapat dengan lugas menginsafi bahasa manusia yang tidak pernah lepas dari bias. Transendensi terjadi dalam kondisi terlepas dari durasi, berlangsung dalam satu kesatuan antara waktu sekarang, masa lalu, dan masa depan. Tidak berlakunya waktu dalam kondisi transendensi berarti tidak ada jarak, sebab itu keadaan tersebut tidak membutuhkan ruang. Dalam keadaan tersebut manusia ada pada kondisi adanya. Di dunia ini kita mempergunakan waktu (durasi) sebagai satu-satunya ruang hakiki untuk menempuh perjalanan menuju kebenaran, sehingga semakin bertambahnya waktu diharapkan dapat mendekati benar (semakin faham). Namun nyatanya dalam setiap jarak tempuh perjalanan ini kita selalu dalam keadaan transenden — disinilah peran sadar dan tidak sadar. Semakin mendekati kebenaran kita, maka semakin sadarlah kita. Dalam keadaan sadar, kita dapat menyentuh keberadaan naungan-Nya yang merangkul diri ini berikut pula semesta alam, dalam keadaan itu waktu ditiadakan, yang hadir hanya diri ini (dalam keadaan adanya) dan Dia. Namun manusia tidak akan pernah lepas dari bias, yang artinya kesadaran sepenuhnya — dalam kapasitasnya sebagai mahluk — tidak mungkin tercapai dalam kehidupan dunia.

Sadar berarti segala sesuatu di diri ini yang dapat dikendalikan (baik itu dengan cara direkam ataupun diraih), sedangkan tidak sadar adalah segala sesuatu yang ada pada diri ini namun berlangsung diluar kendali kita. Sebagai diri, transendensi terjadi pada keduanya, sadar maupun tidak sadar. Sedangkan manusia memiliki kewenangan khusus dalam wayah sadar, yaitu dalam hal kehendak. Kehendak tersebut diberikan kebebasan untuk berlaku berdasarkan akal — untuk mengendalikan nafsu (bukan menghilangkan sepenuhnya) — yang secara bebas memilih tunduk atau berdalih dari firman.

Kehendak tinggal dalam ruang waktu, yang artinya harus tunduk terhadap kesaklekan dunianya. Sebab itulah kekuatan iman menentukan padat atau tidaknya kehendak positif (mengarah kepada yang Absolut) dalam ruang waktu. Semakin terisinya sekat-sekat durasi oleh kehendak positif, maka semakin jernihlah pandangan terhadap kebenaran, semakin luruslah ia berjalan. Sebaliknya, semakin banyak sekat-sekat itu absen oleh kehendak positif maka biaslah pandangan tersebut. Belum lagi jalinan hubungan antara tidak sadar dan kehendak yang hanya dapat terbina oleh segenap keimanan juga menjadi sebab mengapa bias adalah mutlak milik manusia. Semakin bias pandangan manusia, semakin berpotensilah ia untuk berbuat kerusakan.

Kematian adalah pintu menuju kehidupan yang lain. Kehancuran adalah jalan menuju lahirnya bentuk keindahan yang lain pula. Dengan kasih-Nya. Dengan kasih-Nya aku berlindung.

Mengamini keberadaan Pemelihara yang bertindak sebagai pemintai hukum semesta, menempatkan saya (diri adanya) sebagai yang tunduk pada Pemelihara tersebut (atau kepada Pemilik Kesadaran Sejati), yakni kepada yang Absolut. Sehingga dapat dengan jelas terlihat bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri ini dinaungi oleh keindahan. Jika diri saja sudah terumuskan dengan sempurna, maka adalah keseimbangan menyertai pula segala mahluk, menjaga dan memelihara semesta alam.

Manusia diberi kewenangan untuk merusak atau memelihara bumi (yang merupakan bagian kecil dari semesta ini). Keseimbangan berasal dari Sang Pemelihara, namun oleh bahasa manusia yang syarat akan bias dapat dengan mudah menjerumuskan bumi pada kerusakan massive. Manusia hanyalah “cuplikan” yang artinya berskala kecil dan terbatas, bertugas sebagai pemelihara sebagian (yang sangat-sangat) kecil dari semesta ini. Atau dengan versi lainnya dikatakan bahwa manusia sebagai mahluk yang bertanggung jawab atas dunianya.

Pada awal paragraf saya memulai dengan transendensi. Seolah-olah belum apa-apa anda sudah saya ajak melayang-layang, melepaskan diri dari pijakan sekaligus antara diri sebagai objek dan diri sebagai subjek. Sebenarnya apa yang saya lakukan tersebut cukup beralasan, mengingat segala sesuatu yang terjadi tidak begitu saja adanya melainkan kita harus meletakkannya pada posisi tansenden untuk menangkap keluasan pemahaman akan hubungan yang hakiki.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Keberhubungan Manusia Part.2 – Uppeti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s