Panduan Cara Bergaya Parisian

comments 2
Resensi / Resensi Buku

Sudah lama buku ini menarik perhatian saya (edisi berbahasa Inggrisnya sendiri diterbitkan pada tahun 2014). Selain mencari reverensi buku yang santai dan menghibur, alasan utama saya membeli buku ini adalah Caroline De Maigret, model Chanel asal Perancis yang tidak lain adalah salah satu dari empat pengarangnya (pengarang yang lainnya adalah Anne Berest, Audrey Diwan, Sophie Mas). Ditengah usianya yang cukup senior sebagai seorang model, sosoknya tetap menginspirasi muda-mudi seluruh dunia. Siapa yang tidak terkesima dangen keramahan, kecerdasan, selera humor, gaya bersikap yang santai dan bersahabat seorang model terkenal sepertinya?

Saya menganjurkan buku ini kepada siapapun bukan sebagai panduan baku mengenai bagaimana cara begaya Parisian tetapi lebih kepada pengenalan budaya yang menitik beratkan pada kehidupan wanita di Paris. Menarik untuk mengetahui bagaimana dampak warisan kebudayaan negara tersebut terhadap cara pandang wanita-wanita di sana. Banyak pula yang dapat dipetik setelah kita menyaksikan sendiri kehidupan Parisian dalam dimensi 272 halaman ini.

Perancis dikenal memiliki sejarah filsafat dan seni yang cukup panjang, sehingganya Paris yang menjadi pusat kebudayaan di negara tersebut dihuni oleh masyarakat yang sangat menghargai kehidupan. Tidak heran bahwa cinta dan sikap saling mengasihi menjadi aspek penting dalam mencapai kesempurnaan tersebut. Namun buku ini tidak melulu bercerita mengenai hal baik (sama halnya yang terjadi dibelahan dunia lainnya), terutama jika kita ingin benar-benar menyelami kebudayaan baru, pastilah kita mendapati kebiasaan-kebiasan yang sangat berbeda yang tidak dapat dengan mudah disinkronkan dengan kebiasaan di tempat asal kita. Dalam buku ini kebiasaan-kebiasaan tersebut dikemas segar dan lucu sehingga kita tidak menilai hal tersebut sebagai kebiasaan buruk belaka, melainkan menghadirkan permakluman agar pembacanya lebih dapat mengenal. Misalnya digambarkan dalam buku ini kebiasaan terlambat mereka saat harus pergi bekerja karena bagun pagi tidak langsung bangkit dari tempat tidur melainkan menikmati terlebih dahulu moment di pagi hari yang menurut mereka jangan sampai terlewatkan — ya ya ya…sangat filosofi, sangat seni :).

Untitled

Belum sampai kepada inti pembicaraan kalau membahas Paris tanpa berbicara mengenai kecantikan dan fashion, topik yang sebenarnya adalah inti dari buku “How To Be Parisian Wherever You Are” ini sendiri. Mengenai rasa cinta terhadap sesama tadi, maka yang tidak kalah penting juga adalah cinta terhadap diri sendiri — penerimaan diri. Sikap mereka tidak lain adalah mengenai pelepasan diri. Kesemuanya berujung pada kebahagiaan, dimana kebahagiaan adalah syarat penting bagi kecantikan yang memancar dari dalam diri manusia. Dari gaya berpakaian, makeup, perawatan, kesemuanya menitik beratkan pada penghargaan akan kecantikan natural / yang sebenarnya / tanpa kepura-puraan.

  • Warna kulit yang cerah, cara berpakaian yang tidak berlebihan, dan intelektualitas yang tinggi.
  • Warna Hitam dan Navy Blue adalah warna yang paling sering mereka gunakan.
  • Cara berpakaian mereka juga tidak berlebihan; mereka memilih satu bagian yang iconic (mencolok) dan mencerminkan diri, sisanya adalah padam (tidak mencolok). Contohnya, jika celana yang digunakan sudah cukup mencolok, jangan memilih kemeja dan accessories yang berlebihan.

Beauty in French is epidermal — nobody cares that much about makeup, it’s about underneath that matters.

Natural disini bukan berarti tidak merawat sama sekali tetapi lebih kepada menampakkan kelebihan yang sudah dimiliki sebelumnya. Kata kuncinya adalah the best version of yourself. Dengan cara itu penuaan tidak lagi menjadi momok yang terus menerus dikhawatirkan dihampir setiap wanita. Pagi hari, saat jam kerja hampir saja dimulai, saat kamu masih berada di kamar mandi, bercerminlah, nikmati wajah yang kamu miliki sekarang. Nikmati hari ini.

Sebagai kota yang menjadi salah satu pusat fashion dunia, siapa bilang wanita Parisan pantang untuk makan enak? tidak hanya dessert yang terdapat di Cafe Terrace, ternyata masing-masing wanita di sana juga memiliki warisan resep khas nenek moyangnya sendiri. Pada jamuan makan malam, terdapat deretan acara yang setiap sesinya ditandainya dengan pergantian menu makanan.

Buku ini membawa setiap indra kita untuk ikut pergi dan merasakan. Recommended.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s