Suara Pagi Menghinggapi Dahan Pohon, Tanda Lahirnya Cahaya

Leave a comment
Renung / Sejenak

Mencari inpirasi setiap pagi dengan udara yang masih sejuk, langit yang belum sepenuhnya menyala terang, kupu-kupu yang bergantian terbang di atas pohon delima, tingkah beberapa burung yang sedang mematuk biji rumput dan akar muda tanaman, sesekali mereka terbang menggapai kawat pagar untuk kemudian bernanyi kembali. Saya tidak sedang melebih-lebihkan, tetapi inilah yang terjadi saat kita sedang berjauhan dari hiruk-pikuk manusia.

Hampir setiap pagi suara mereka terdengar di halaman belakang rumah. Konsentrasi, inspirasi, dan ketenangan sekaligus mengalir deras di atas kepala. Siapa bilang suara seperti ini malah membuat kita semakin mengantuk? sebaliknya, semangat kreativitas menghampiri dan menyegerakan kita untuk bangkit dari tempat tidur. Ya, segeralah bangun! Jangan sampai terlambat, karena setelah itu suara mereka akan menghilang berganti dengan suara bising kendaraan bermotor di siang hari.

Burung sering menjadi simbol surga/langit. Saya mengutip tulisan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam bukunya Hakekat Ruh :

Beliau juga mengabarkan bahwa ruh orang mukmin terbang hingga hinggap di pohon dalam surga lalu dikembalikan Allah ke jasadnya. Beliau juga menggambarkan bahwa ruh para syuhada berada di dalam tubuh burung yang berwarna hijau, hilir mudik di sungai-sungai surga dan memakan buah-buahannya. Rasulullah s.a.w. juga menggambarkan bahwa ruh itu mendapatkan kenikmatan dan azab di alam barzakh hingga datangnya hari Kiamat.[1]

Rasulullah s.a.w menafsirkan kehidupan itu dalam sabdanya :

Sesungguhnya ruh mereka berada di dalam seekor burung yang berwarna hijau, yang memiliki pelita-pelita, tergantung di Arsy, beterbangan di surga menurut keadaannya. Kemudian burung itu hinggap di pelita-pelita tersebut. Seraya bertanya: “Apakah kalian menghendaki sesuatu?” Mereka menjawab: “Apalagi yang kami kehendaki sementara kami beterbangan di surga sesuka kami?” Allah menanyakan hal ini hingga tiga kali. Ketika mereka menyadari bahwa sekali-kali mereka tidak dibiarkan untuk meminta, mereka pun berkata: “Kami ingin agar ruh kami dikembalikan ke jasad kami agar bisa berperang di jalan-Mu sekali lagi.”[1]

Untitled

Saya rekomendasikan anda mengikuti Explore Birds yang ada di youtube jika ingin ikut hadir melihat habitat mereka.


Reference

[1]: Al-Jauziyyah, I.Q. (2015). “Hakekat Ruh”. (F. Arifin, Trans.). Jakarta: Qisthi Press, p. 57. (Original work published 1987).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s