Apakah Masyarakat Lampung Sudah Cukup Membaca?

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Update Status

Senin, 15 Februari 2016 sekitar pukul 10 pagi kemarin saya coba menyempatkan diri untuk mampir ke Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah Provinsi Lampung. Sebenarnya waktu “sempat”-nya saya itu ya banyak sekali, tetapi entah mengapa waktu sempat tersebut lebih banyak terpakai untuk jalan-jalan mencari jajanan pinggir jalan daripada mengerjalan hal-hal yang positif seperti ini. Sudah cukup lama saya dibuat penasaran dengan buku-buku yang tersedia di perpustakaan daerah (perpusda) tersebut. Siapa tahu bisa mendapatkan bacaan seru dengan harga murah atau malahan gratis ditempat.

Perpustakaan daerah bisa dibilang merupakan cermin kualitas pendidikan dan kebudayaan lokal, baik itu jika kita pantau dari segi aktivitas maupun fasilitas didalamnya. Lalu apakah masyarakat Lampung sudah cukup membaca? Jika anda berdomisili di Lampung, silahkan tanyakan kepada diri anda masing-masing. Dan jika anda bukan bagian dari masyarakat Lampung, silahkan nilai sendiri dari postingan saya di sini.

Minat baca tidak hanya kita ukur dari perpustakaan daerahnya saja, minat baca masyarakat di suatu daerah juga bisa kita nilai dari keberadaan perpustakaan swasta dan toko buku yang tersedia di daerah tersebut. Jika beberapa kali anda terpaksa harus belanja online untuk mendapatkan sebuah buku, bisa jadi itu adalah sebab toko buku di daerah tempat anda tinggal tidak menyediakan kebutuhan anda. Entah sudah berapa kali pak pos yang tidak kenal hujan dan panas itu menerbangkan buku ke pelosok daerah, termasuk ke rumah anda. Bersyukur kita hidup di zaman ini. Terima kasih toko buku online! loh?

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak dapat menikmati fasilitas internet, tidak memiliki akses jalan yang menunjang, ataupun tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk sekedar bisa membaca?

Sebenarnya saya cukup enggan untuk membahas topik ini, tetapi sepertinya membuat tulisan yang sifatnya “mengajak” terkadang diperlukan juga. Paling tidak untuk sekedar saling mengingatkan.

Sesampainya di pintu perpusda, kita langsung diterima dengan sambutan dan pelayanan yang sangat ramah. Mereka menyambut baik pengunjung dengan memberikan informasi dan bantuan mulai dari datangnya pengunjung sampai dengan selesainya. Buku-buku yang tersedia sebenarnya bisa dibilang cukup untuk  dapat dimanfaatkan sebagai sumber standar bagi ilmu dan pengetahuan. Bagi saya pribadi yang terpenting adalah tersedianya buku-buku pendidikan dasar, minimal pada pembelajaraan wajib untuk menunjang program pemerintah yang besinggungan. Misalnya antara dinas pendidikan dan perpusda. Maka buku-buku pelajaran (minimal) sampai tingkat SMA misalnya, harus tersedia dan lengkap di perpusda. Keberadaan suatu instansi tidak hanya ada untuk berdiri sendiri, mereka pastilah bersinggungan dengan pihak lainnya agar tercapai kesempurnaan fungsi.

Kita tahu bahwa sebuah perpustakaan daerah memiliki peran edukasi, fasilitasnya diharapkan bisa dimanfaatkan bagi sesorang yang ingin otodidak menyikapi kehidupan. Disini menariknya, buku yang tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas belajar formal saja, tetapi lebih dari itu buku memuat seluruh informasi yang kita perlukan dalam kehidupan ini. Bukan hanya buku; dikatakan sebagai lembaga perpustakaan, arsip dan dokumen — sehingga dalam pengertiannya seluruh catatan tertulis juga termasuk didalamnya. Dari pengertiaan itu saja bisa kita mengerti bahwa lembaga ini adalah sebuah lembaga yang haus pada setiap kebaruan tertulis di segala ranah. Kesemuanya itu demi menungjang pencapaian kemaslahatan masyarakatnya. Menghasilkan masyarakat yang beradab.

Pernahkah anda bayangkan perpustakaan sebagai pusat bantuan selain 108 ?

Saya sempat melihat-lihat arsip daerah di sana, senang sekali bisa melihat dokumen-dokumen yang menjadi bukti sejarah perjalanan provinsi ini. Puing-puing kecil yang menyusun bongkahan besar bukti sejarah bangsa kita yang serba kompleks. Belum ada kesudahan bagi kehidupan selanjutnya, keberadaan arsip dan dokumen tersebut merupakan harta yang bernilai tinggi bermakna refleksi diri. Mudah-mudahan setelah adanya teknologi seperti ebook, ocr, dan lainnya bisa menyelamatkan lembaran-lembaran yang mudah musnah dan lapuh itu.

Tulisan ini sederhana, tetapi paling tidak bisa sedikit menggerakkan hati anda untuk suatu-waktu mengajak anak-anak kita mencintai buku dengan berwisata ke perpusda setempat. Mengajak generasi selanjutnya untuk terus melindungi sejarah sekaligus menatap masa depan. Anda tidak perlu takut mereka akan cepat merasa bosan jika bermain di sana. Ruang membaca anak didekorasi sedemikian rupa agar tetap menarik. Saya tidak tahu kondisi terbaru saat ini sudah seperti apa, namun saya harap paling tidak taman kanak-kanak yang ada saat ini sudah punya jadwal reguler untuk membawa siswanya bermain ke perpustakaan daerah. Menarik jika memang benar adanya.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s