Mengenal Virus Zika untuk Mengatasi Wabah

Leave a comment
Meja Kerja / Tulisan Lepas

Semenjak wabah penyakit demam Zika terjadi di Brazil pada tahun 2015 kemarin, bulan Februari 2016 ini WHO mendeklarasikan status demam Zika darurat publik secara global.[1][2] Kendati Indonesia memiliki sejarah infeksi virus Zika pada tahun 1978 dan 1981, beruntung saat itu kejadiannya belum berstatus KLB (Kejadian Luar Biasa).[3] Dalam laporannya, WHO mencatat bahwa saat ini negara kita berindikasi adanya sirkulasi virus Zika.[4] Untuk mencegah kejangkitan luar biasa, kita harus mengetahui status keberadaan virus tersebut secara jelas. Menyikapi hal tersebut maka perlu didukung oleh pendataan dan laporan aktual dari masyarakat terkait virus Zika. Karena itu edukasi dalam upaya pengenalan penyakit ini harus lebih dini difahami oleh masyarakat. Beruntung masyarakat kita memiliki pertalian yang sangat kuat satu-sama-lain. Dengan itu, banyak dari kita yang telah mendapatkan informasi mendasar mengenai virus ini (terutama informasi mengenai gejala dan pencegahan) dari berbagai social media maupun chat group yang diharapkan dapat menjadi salah satu point pertahanan kita untuk mencegah penyebarannya — dapatkan bagan sosialisainya di link berikut ini: 1, 2, 3.

Menkes berpesan agar masyarakat tetap waspada terhadap perkembangan virus Zika, namun hendaknya tidak panik dan berlebihan.

Rabu malam tanggal 3 Februari, Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), mengumumkan travel advisory kepada masyaraat Indonesia yang ingin bepergian ke negara-negara KLB virus Zika. Negara-negara yang mengalami KLB virus Zika, yaitu Brazil, Cape Verde, Colombia, El Savador, Honduras, Martinique, Panama, dan Suriname. Sedangkan negara-negara yang memiliki status transmisi aktif, yaitu: Barbados, Bolivia, Curacao, The Dominican Republic, Ecuador, Fiji, French Guiana, Guadalope, Guatemala, Guyana, Haiti, Meksiko, New Caledonia, Nicaragua, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Samoa, Tonga, US Virgin Islands, dan Venezuela.[5] Dengan keluarnya himbauan ini, bersama-sama kita harus tanggap membantu pemerintah dalam menentukan langkah menyikapi kondisi terkini.

***

Virus Zika (ZIKV) merupakan grup dari Spondweni serocomplex. Virus ini terdapat pada nyamuk pembawa flavivirus yang siklus transmisinya secara natural melibatkan terutama vektor dari genus Aedes (A. furciferA. taylori, A. luteocephalus dan A. africanus) dan monyet.[6] — Klik info mengenai taksonomi dan genomik.

Flavivirus yang terdapat pada nyamuk diduga melakukan replikasi awal di sel dendrit dekat lokasi terjadinya inokulasi kemudian menyebar ke kelenjar getah bening dan peredaran darah.[7] Meski diketahui replikasi flavivirus terjadi di sitoplasma, satu penelitian mengindikasikan bahwa antigen ZIKV dapat juga ditemukan di inti sel pada sel yang terinfeksi.[8] Infeksi ZIKV dilaporkan terditeksi dalam darah manusia segera setelah hari dimana terjadinya onset penyakit.[9] ZIKV dapat dimatikan dengan potassium permanganate, ether, dan suhu >60°C, namun tidak secara efektif dinetralisasi oleh ethanol 10%.[10]

Struktur virion ZIKV. Virion flavivirus mengandung nukleokapsid (diameter 25-30 nm) dikelilingi oleh lipid bilayer yang diperoleh dari membran inang yang mengandung selubung protein (envelope proteins) E dan M (atau prM). Diameter virion rata-rata adalah 40 nm dengan proyeksi permukaan 5-10 nm.[14] Permukaan protein tersusun dalam icosohedral-like symmetry.[13]

Figure.1 Gambaran umum struktur family flaviviridae.

Struktur Genomik. ZIKV adalah virus RNA mengandung 10794 nukleotida yang betugas menyandikan 3419 asam amino.[6] Diapit oleh dua non-coding regions yaitu 5′ NCR dan 3′ NCR dengan urutan rangka 5′-C-prM-E-NS1-NS2A-NS2B-NS3-NS4A-NS4B-NS5-3′. Jika dipecah maka kode poliproteinnya menjadi capsid (C), precursor membrane (prM), envelope (E), dan non-structural proteins (NS).[11] Protein E menyusun sebagian besar permukaan virion dan terlibat dalam beberapa aspek replikasi seperti pada saat pelekatan sel inang dan fusi membran. 428 nukleotida yang terletak pada bagian 3′ NCR kemungkinan berperan dalam translasi, membungkus RNA, cyclization, stabilisasi genom, dan pengenalan.[12] 3′ NCR membentuk loop structure dan 5′ NCR memungkinkan translasi methylated nucleotide cap atau genome-linked protein.[13]

Figure.2 Bagan umum strukur genome flavivirus.

Ekspresi Gen. Virion RNA dapat menular dan berperan baik sebagai genom maupun sebagai viral messenger RNA. Seluruh genom diterjemahkan menjadi poliprotein yang diproses pada saat co- dan pasca-translasi oleh protease inang dan virus.[13]

Replikasi. Terjadi di sitoplasma. (a.) Pelekatan protein E selubung virus pada inang memediasi internalisasi ke dalam sel inang oleh clathrin-mediated endocytosis atau oleh apoptotic mimicry. (b.) Fusi membran virus dengan membran endosomal inang. Genom RNA dilepaskan ke dalam sitoplasma. (c.) Positive-sense genomic ssRNA ditranslasi menjadi poliprotein yang kemudian dipecahkan menjadi struktural dan non-struktural protein (untuk menghasilkan protein replikasi). (d.) Replikasi terjadi di permukaan retikulum endoplasma pada pabrikan viral sitoplasma. (e.) Satu genom dsRNA ditranskripsi sehingga menyediakan mRNA viral atau genom ssRNA(+) baru. (f.) Perakitan virus terjadi di retikulum endoplasma dan tampaknya difasilitasi oleh kanal ionik virus p7. Tunas virion melalui kompleks inang ESCRT di retikulum endoplasma, diangkut ke aparatus golgi. (g.) Pelepasan virion baru dengan eksositosis.[13]

Pengobatan. Saat ini belum ada pengobatan spesifik yang efektif mengatasi ZIKV. Hal ini disebabkan karena pemahaman yang masih dalam tingkatan genus, patogenesis spesifik species virus Zika belum secara penuh difahami apalagi untuk sampai pada tingkat molekular. Mengenali protein yang bertanggung jawab, nantinya akan memudahkan peneliti mendesain obat yang mampu mengintrupsi kerja virus. Sedangkan butuh waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan struktur kompeten sampai dengan lolos pengujian klinis. Pengobatannya saat ini hanyalah dengan memberikan obat yang dapat mengurangi gejala penyakitnya saja. Kendati demikian baru-baru ini terdengar informasi tentang pengembangan vaksin yang diharapkan dapat digunakan dalam waktu dekat.


References

[1]: “WHO Director-General Summarizes the outcome of the Emergency Committee regarding clusters of microcephaly and Guillain-Barre syndrome”. WHO. 1 February 2016. Retrieved 8 February 2016.

[2]: “Zika virus outbreak (2015-present)”. Wikipedia. Retrieved 8 February 2016.

[3]: “Indonesia steps up preventive measures against Zika virus”. Jakarta Post. 3 February 2016. Retrieved 8 February 2016.

[4]: “Latest Zika situation report”. WHO. 5 February 2016. Retrieved 8 February 2016.

[5]: “Kementerian Kesehatan Keluarkan Travel Advisory terkait Virus Zika”. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 3 February 2016. Retrieved 8 February 2016.

[6]: Hayes, E.B. (2009 [date cited]). “Zika Virus Outside Africa”. Emerging Infectious Diseases [serial on the Internet] 15(9)-September 2009. doi: 10.3201/eid1509.090442.

[7]: Diamond, M.S.; Shrestha, B.; Mehlhop, E.; Sitati, E.; Engle, M. (2003). “Innate and adaptive immune responses determine protection against disseminated infection by West Nile encephalitis virus”. Viral Immunol 16:259–78. doi: 10.1089/088282403322396082.

[8]: Buckley, A.; Gould, E.A. (1988). “Detection of virus-specific antigen in the nuclei or nucleoli of cells infected with Zika or Langat virus”. J Gen Virol 69:1913–20. doi: 10.1099/0022-1317-69-8-1913.

[9]: Lanciotti, R.S.; Kosoy, O.L.; Laven, J.J.; Velez, J.O.; Lambert, A.J.; Johnson, A.J.; et al. (2008). “Genetic and serologic properties of Zika virus associated with an epidemic, Yap State, Micronesia, 2007”. Emerging Infectious Diseases 14:1232–9.doi: 10.3201/eid1408.080287.

[10]: Dick, G.W. (1952). “Zika virus. II. Pathogenicity and physical properties”. Trans R Soc Trop Med Hyg 46:521–34. doi: 10.1016/0035- 9203(52)90043-6.

[11]: Chambers, T.; Hahn, C.; Galler, R.; Rice, C. (1990). “Flavivirus genome organization, expression, and replication” (PDF). Annual Reviews of Microbiology 44:649-88.

[12]:  Faye, O.; Freire, C.C.M.; Iamarino, A.; Faye, O.; de Oliveira, J.V.C.; Diallo, M.; et al. (2014). “Molecular Evolution of Zika Virus during Its Emergence in the 20th Century”. PLoS Negl Trop Dis 8(1): e2636. doi: 10.1371/journal.pntd.0002636.

[13]: “Flaviviridae”. Swiss Institute of Bioinformatics. Retrieved 10 February 2016.

[14]: Murphy, F. A. (1980). Togavirus morphology and morphogenesis. See Ref. 143, pp. 241-316.

Figures

Figure.1 and Figure.2. No title. [13]

Further Reading

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s