Sejarah Filsafat Kontemporer Bertens Part.1

Leave a comment
Resensi / Resensi Buku

Sebagai peminat filsafat pemula, buku ini sangat membantu dalam mengenali perkembangan filsafat di zaman kita ini. Masa kontemporer (zaman ini) tentunya memiliki garis waktu yang sempit karena belum berakhir dan masih berjalan, sehingga peta pemikirannya tidak terlalu jauh berbeda dan saling terkait satu sama lain akibat berada pada zaman dengan permasalahan yang hampir sama.

Penentuan awal dan akhir suatu periode sejarah masih sering menimbulkan perselisihan. Hal ini disebabkan oleh perpindahan satu kejadian ke kejadian berikutnya yang bisa jadi masih saling mempengaruhi. Dalam filsafat, sudah lazim sejarah filsafat dibagi menjadi 3 periode: 1) Filsafat Zaman Yunani dan Romawi; 2) Filsafat Abad Pertengahan; 3) Filsafat Modern. Sedangkan Filsafat Kontemporer masih diperdebatkan satusnya jika harus disebut sebagai sejarah, karena zaman ini belumlah berakhir (1).

Jadi jelaslah zaman yang masih belum berakhir dengan rentang waktu yang sempit ini belum bisa menggambarkan secara utuh bagaimana rupa pemikiran filsafat kontemporer sebenarnya.

Sistem waktu ini bukanlah satu-satunya faktor penentu pemetaan filsafat secara universal. Kesulitannya ada pada faktor bahasa yang menghambat penyebaran filsafat dari satu daerah ke daerah lain, akibatnya bukannya tidak mungkin filusuf di satu daerah tidak tahu menahu tentang filusuf di daerah lainnya walaupun konteks pemikirannya bersinggungan.

Pemikiran filusuf juga sangat dipengaruhi keadaan tempat hidupnya. Karena itu pastilah konteks pemikiran dalam setiap daerah akan tercorak dengan sendirinya. Belum lagi dengan adanya kondisi-kondisi tidak terlupakan seperti Perang Dunia I dan II yang menyebabkan banyak filusuf kontemporer bermigrasi ke ketempat-tempat aman yang membawa pengaruh terhadap perkembangan pemikiran di daerah yang didatangi. Sehingganya Bertens, penulis buku ini, memberikan pemecahan dengan menggolongkannya berdasarkan aliran-aliran pemikiran dan bahasa.

tumblr_nytp77mf2j1sh6ucdo1_1280

Menguniversalkan pemikiran seluruh zaman adalah sesuatu yang kurang solutif. Karena universal berasal tarikan garis besar kumpulan pemikiran-pemikiran orisinil yang berasal dari individu ataupun kelompok di daerah tertentu dengan kondisi tertentu pula. Akibatnya, pemikiran satu belum tentu dapat diterapkan pada daerah atau zaman lainnya (berlaku hukum ruang dan waktu) yang memiliki iklim sosial yang berbeda pula.

Seperti yang saya katakan tadi, jika kita memetakan pemikiran-pemikiran orisinil yang lalu ditekankan kepada pemecahan-pemecahan yang dapat berlaku universal, maka dengan sendirinya akan muncul kepermukaan apakah yang sebenarnya menjadi permasalahan universal. Lalu dapat kita bagi-bagi besaran tersebut menjadi bagian-bagian khusus sesuai dengan karakteristiknya. Itulah peran sejarah terhadap hidup kita, untuk memberi gambaran masa lalu yang pada akhirnya tidak lain adalah untuk lebih mengenali hakikat diri kita sendiri.

Walaupun terbagi menjadi 3 bagian: filsafat Inggris, Jerman, dan Prancis; buku ini dibagi menjadi dua jilid. Dimana jilid I untuk filsafat Inggris dan Jerman, dan jilid II untuk filsafat Perancis.

Filsafat Inggris memiliki minat khusus kepada fakta-fakta. Mereka cenderung kepada analisis, bukan spekulatif. Sifat khasnya adalah empirisme yang mementingkan pengalaman. Karena itu mereka mengutamakan hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan, itu lah sebabnya pada umumnya mereka bersikap anti-metafisis (1).

Sedangkan filsafat Jerman adalah tempat subur untuk pemikiran spekulatif yang pada umumnya berorientasi pada metafisika. Mereka mementingkan sintesis dan berkaitan dengan itu merasa tertarik akan metode dialektis. Filsafat Jerman memandang rendah setiap uraian yang dangkal dan menuntut suatu penelitian yang mendalam serta dasariah. Oleh karenanya filsafat Jerman banyak menghasilkan buku yang tebal dan sukar dicerna (1).

Dengan adanya buku ini, akhirnya menarik minat saya untuk semakin mendalami berbagai karya buah fikir beberapa filusuf dari kedua negara tersebut. Terkesima dengan penulisan dan cara berfikir mereka yang mengagumkan. Alhasil tumpukan buku yang ingin saya beli semakin berdesakan. Filsafat bukan bacaan yang bisa didengarkan sambil berjalan seperti audiobook, melainkan bacaan khidmat yang menuntut konsentrasi. Tidak selesai suatu bacaan filsafat tanpa coretan di buku tersebut. Bacaan yang hanya untuk sendiri.

Sumber: 1, 2.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s