Menciptakan Monster

Leave a comment
Renung / Resensi / Resensi Buku / Sejenak

Ironis. Itu tanggapan saya saat pertama kali melihat trending video di youtube kemarin malam. Simak ini :

Video di atas adalah reaksi yang diberikan oleh schmoyoho berdasarkan video aslinya di bawah ini :

Video ini menjadi trending tidak lain karena banyak yang merasa terhibur dengan gaya bicara ibu tiga anak ini. Padahal dalam interview ia sedang membicarakan kronologis kejadian kebakaran di tempat tinggalnya. Lucu? ya, itu sebabnya saya pun tertawa melihat video respon milik schmoyoho. Tetapi dimana letak empati kita saat harus merespon dua keadaan yang sangat berbeda ini. Komedi mengutarakan musibah atau malah sebaliknya, sebuah ironi dalam kemanusiaan.

Berbagai komentar dari penonton video ini bermunculan. Kebanyakan dari mereka menganggap ini lucu (seperti yang ingin media sampaikan). Tetapi ada pula yang menganggap ini contoh keadaan rasisme, kurangnya empati, dll yang kesemuanya mengarah pada apa yang kita sebut bully. Bagaimana pun itu, bisa jadi cara penyampaian wanita tersebut sudah merupakan kebiasaan/gaya bicara seseorang di komunitasnya atau bisa saja wanita itu memang sedang dalam mood yang positif karena kebersyukurannya atas keselamatannya atau bisa jadi itu ungkapan rasa takjubnya pada sesuatu yang belum pernah dialaminya.

Tidak jauh berbeda dengan kedaan saya sendiri saat saya harus merantau dari satu daerah ke daerah lain. Perbedaan budaya amat terasa kendati pun itu untuk hal-hal yang sederhana seperti intonasi bicara, keterbukaan dalam mengutarakan sesuatu, gaya bercanda, dll. Dalam hal ini, minoritas haruslah meleburkan dirinya dalam situasi mayor agar dapat diterima. Walaupun ya, saya setuju akan kerifan suku atau ciri khas kederahan yang patut untuk tetap dijadikan junjungan sebagai salah satu prinsip hidup seseorang. Karenanya di suatu daerah yang mayoritas penduduknya pendatang, sudah pasti berbagai macam peleburan budaya terjadi. Terlepas dari itu semua, keadaan inilah yang menjadi tantangan terberat bagi kaum minoritas.

Sudah hukum alam dimana yang kuat mengalahkan yang lemah. Sedangkan definisi kuat itu luas. Tergantung bagaimana masing-masing pribadi berinterpretasi membela dirinya.

***

Stalin, Khadafi dan Idi Amin adalah tiga diktator yang berhati baja. Ketiganya memiliki persamaan yang dicurigai menjadi penyebab pembentukan seorang psikopat: penderitaan di masa kecil, absennya figur ayah dan asosial di lingkungan teman-temannya.(2)

Ketiga diktator tersebut telah mengalamai proses di dua dunia, dalam keadaan inferior dan superior dimasa hidupnya. Hukum selalu berlaku sama. Siapa yang merasa superior akan membenci inferior. Mereka tidak menyukai manusia yang menurut mereka sangat-sangat buruk. Kasus bully bisa terlihat jelas pada banyak anak-anak. Bukan berarti orang dewasa tidak melakukan bully, hanya saja anak kecil memiliki sifat jujur.

Manusia selalu resah akan bagaimana keadaan status sosialnya. Karenanya status sosial sering kali seolah dijadikan alat ukur kebahagiaan seseorang. Keadaan ini pernah dijabarkan oleh Alain De Botton dalam bukunya “Status Anxiety”. Bahwa sudah semenjak bayi kita selalu ingin diperhatikan oleh ibu. Pertalian antara anak terhadap ibunya yang juga merupakan pertalian ibu terhadap anaknya. Perilaku keduanya merupakan awal mula tumbuhnya keinginan seseorang untuk selalu mendapatkan perhatian. Kasih-sayang.(1)

Bahagialah kita, jika sudah terpenuhinya tuntutan aktifitas kasih-sayang. Semakin dewasa maka semakin besarlah kemampuan kita (power) untuk memiliki dampak terhadap orang banyak, sehingga semakin besar pulalah kedapatan aktifitas kasih-sayang tersebut. Dalam proses pencapaian power tersebut nantinya secara natural akan muncul pulalah produk-produk sampingan seperti iri hati dan tinggi hati, dimana keduanya merupakan cikal keadaan bully.

Karenanya, bullying tidak hanya menimpa orang berstatus rendah saja. Tetapi juga orang berstatus rendah yang bahagia dengan keadaannya. William James, seorang filusuf dan psikologis pernah mengutarakan rumusan yang dikenal sampai sekarang, dimana dinyatakan self-esteem = success/expectation. Jadi, untuk mendapatkan nilai penghargaan diri yang diinginkan hanyalah melalui dua cara: dengan meningkatkan nilai kesuksesan kita atau dengan menurunkan nilai ekspektasi.(1)

Namun ada hal lain yang jika kita perhatikan dengan lebih seksama maka aktifitas kasih-sayang juga mengambil bagian bagi pelaku bullying. Pertama, tidak melulu korban yang selalu kita bela, tapi dengarkan pula suara si pelaku. Jika korban merasa lemah dan pelaku merasa lebih berkuasa. Lalu apakah dalam kasus bully si pelaku lalu dengan semerta-merta menyiksa korban tanpa alasan? Bukankah tidak jarang kita dengar pernyataan mengenai perilaku menyimpang korban bullying. Sehingga mereka seolah bersikap pahlawan dengan mengasingkan minoritas dari kaumnya. Dengan cara melindungi kaum mayoritas dari pencemaran oleh minoritas. Di sini berlaku power dalam hubungannya dengan aktifitas kasih-sayang — terhadap sesamanya tadi. Kedua, di alam bawah sadar seseorang, keadaan rendah orang lain memberikan pencerminan terhadap dirinya sendiri. Tentang bagaimana responnya terhadap keberadaan bencana tersebut, bukan bagaimana cara dia merespon saat hal itu terjadi padanya di alam nyata. Hubungan kebatinan yang terjadi itulah yang dapat dikategorikan sebagai aktifitas kasih-sayang organik antara manusia.

Kasih-sayang tertanam dalam diri manusia untuk menjamin terpeliharanya umat. Itu adalah pertalian gaib yang tidak tampak sehingga sulit untuk diukur. Nilai yang dapat kita ukur hanyalah pada lepasan-lepasan aktifitas yang disebabkannya. Pada bentuk-bentuk yang kita kenal sebagai “jiwa sosial” seperti kedermawanan, kepemimpinan, patriotisme, dll. Sebab, “jiwa sosial” adalah kasih-sayang yang condong kepada akal. Bukan condong kepada nafsu yang menurunkan nilai kasih-sayang itu sendiri dibandingkan aktifitas yang lebih condong kepada akal. Contoh sederhananya seperti seorang ibu yang mendidik anaknya dengan cara memukul, kekerasan dalam rumah tangga dengan alasan cemburu, dll.

Jika kita lihat mengenai ketiga diktator tadi. Terdapat keabsenan dalam hidup mereka, terutama dalam hal kasih-sayang, baik dari tingkat basis (kanak-kanak) sampai dengan pertumbuhannya. Masalah perkembangan dalam keluarga ditambah lagi tidak diterimanya mereka dalam sosial sehingga bukannya tidak mungkin kasus bully dapat menciptakan sosok yang terjerumus kepada perilaku amoral yang berpotensi membahayakan ketika telah bertumbuh dewasa.

Kebebasan berkehendak manusia tidak sama dengan hewan karena manusia memiliki komponen dasar pembeda yaitu akal. Kasih-sayang yang dibarengi dengan akal sehat dimilliki oleh seseorang dengan kematangan ahlaq. Tidak terlepas dari kurangnya pengendalian diri si pelaku bully terutama terhadap korban yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Adalah tanggung jawab orang tua si pelaku bully untuk menanamkan ahlaq kepada anaknya semenjak kecil, terutama jika kelebihan mereka adalah terdapatnya kasih-sayang orang tua yang tidak semua anak mendapati anugerah yang sama.

Sumber: 12.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s