Rombakan Sistem Pendidikan, Syarat Evolusi

comment 1
Renung / Sejenak

Waktu menjawab ramalan para bijak. Jauh sebelum peradaban ini, Plato, Socrates, Buddha, Confucius atau para nabi pernah mengutarakan apa yang akan terjadi dimasa depan. Luasnya perspektif para musafir dianggap berharga dan digunakan dalam banyak kebijakan negara, pembangunan sipil, pengembangan science, dll. Bayangkan saja sebuah intan, cahayannya menyebar ke berbagai penjuru. Yang mampu melihat cahaya tersebut dengan pandangan yang (hampir) sempurna adalah seseorang yang telah menempuh perjalanan yang jauh, bertemu dengan banyak hal, mengatasi banyak rintangan. Dengan ‘banyak’-nya itu, setidaknya ia lalu mampu memahami arti yang mendekati kebenaran.

Lalu apa korelasi antara orang bijak dan kemaslahatan umat? Saat saya menulis blog ini sampai dengan tulisan ini anda baca tentunya evolusi sedang/terus berjalan, apapun bentuknya, baik yang dapat di sentuh indera maupun yang kasat mata. Walaupun sifatnya universal, tetapi ranahnya tersegmenkan dengan jelas. Kemampuan evolusi tidak hanya dimiliki oleh species kita, tetapi juga seluruh alam. Sehingganya manusia butuh beradaptasi dari masa ke masa agar dapat selalu beriringan dengan alam semesta, khususnya di muka bumi. Evolusi tidak dapat diciptakan hanya dalam satu generasi. Seluruh materi alam butuh waktu untuk dapat menyesuaikan perubahan di lingkungannya yang terlebih dahulu telah menjalani waktu untuk berevolusi. Dan jika mereka tidak mampu menghadapi evolusi, maka punahlah.

Manusia memiliki kompleksitas fikir dan spiritualitas yang tajam. Itu sebabnya kita memiliki kelebihan untuk mengontrol evolusi ditengah evolusi. Evolusi yang dapat manusia kendalikan adalah evolusi budaya. Tetapi apakah evolusi budaya dapat melawan atau bahkan mengawinkannya dengan evolusi alam? Mungkin salah satu jawabannya ada pada cabang ilmu biologi dengan bantuan teknologi [baik itu terknologi dalam ranah basah (bioteknologi) maupun teknologi dalam ranah kering (bioinformatika)]. Tetapi kita tidak akan membahas panjang lebar tentang itu. Karena saat ini saya ingin merunutkan akar besar dari evolusi budaya, yaitu ilmu dan pengetahuan.

Setiap orang bijak memiliki labuhan akhir yang tidak pernah berubah walaupun jalur yang dipilihnya tidak selalu sama dari masa ke masa untuk mencari hakikatnya manusia. Sebab itulah yang menjadi pegangan bagaimana seharusnya manusia menyikapi kehidupan, agar terus dapat bertahan atau bahkan berjaya di muka bumi. Saya katakan ‘berjaya’ adalah dalam artian positif. Karena jika manusia tidak mengenal hakikat dirinya akan hubungannya dengan alam semesta maka artian tadi akan menjadi negatif. Dalam arti manusia memiliki potensi untuk merusak dan tidak menghargai alam.

Manusia memiliki dua potensi yang menonjol, yaitu kemampuannya untuk dapat berfikir kompleks dan karunia ketajaman spiritual. Sehingganya alat yang berperan untuk mempertajam keduanya adalah ilmu (dan pengetahuan) di dua potensi tersebut. Satu-satunya jalan bagaimana imajinasi manusia dapat diterima logika maupun intuisi sesamanya untuk menciptakan wujud konkrit maupun abstrak yang efisien dan manfaat bagi kehidupan khalayak. Karena itu pendidikan adalah penting demi keberlangsungan umat manusia.

Laju evolusi budaya di muka bumi bergerak cepat seiring majunya budaya yang berbanding lurus dengan majunya komunikasi. Jadi apakah sistem pendidikan yang ada sekarang ini telah menyesuaikan dirinya? jawabannya adalah belum sepenuhnya karena kita masih bekerja atau berproses untuk itu semua. Jangan lupa bahwa hukum evolusi adalah saling kejar-mengejar, maka agar tidak terjadi kolaps dalam satu generasi, kita haruslah tanggap menyikapi setiap perubahan.

Dalam perkembangan informasi seperti saat ini, teknologi informasi merupakan alat untuk menyimpan kelimpahan informasi yang dapat dipanggil cepat oleh pengguna. Berbanding terbalik dengan struktur kebahasaan saat ini yang juga menuntut kecepatan — akibat luapan informasi — sehingga disajikan dalam bentuk yang ringkas dan sederhana. Seperti sebuah chips komputer yang berkemampuan besar, dituntut menciptakan sesuatu dalam wujud yang semakin praktis dengan kemampuan yang semakin besar. Relevansinya adalah bagaimana cara kita menghadapi fenomena luapan informasi ini dalam kolerasinya pada sistem pendidikan yang seharusnya berada lebih depan mengingat fungsi kontrolnya.

Idealnya, sistem pendidikan memiliki kecepatan perubahan yang tanggap pada perubahan sistem komunikasi. Rancangan metodenya haruslah responsif terhadap iklim sosial saat ini.

Perubahan sistem komunikasi pastilah berdampak langsung terhadap sosial dan budaya manusia di zamannya. Kita lihat sekarang seperti adanya krisis sistem pendidikan kita akibat kejar-kejaran tersebut. Manusia saat ini bisa mencari informasi secara mandiri dan semakin kreatif. Jangan samakan lagi dengan manusia pada era revolusi industri. Memang, ada bentuk-bentuk kapitalisme yang sampai saat ini diramalkan kebertahanannya dalam kurun waktu yang cukup lama, baik itu masih yang berpegang dengan sistem lama maupun sistem yang baru. Bentuk-bentuk kapitalisme tersebut kedepannya diyakini akan banyak berubah pula formasinya kedalam bentuk yang lebih bijak, praktis, ramah lingkungan, menyebar (lokalisasi/individu), dan tetap berpegang dengan konsep masalnya. Ya, saya katakan kapitalisme tidaklah semerta-merta hilang begitu saja karena perubahan iklim budaya yang terjadi saat ini, melainkan ada sebagian yang dapat betahan dengan merubah bentuknya sesuai ketanggapannya terhadap evolusi budaya. Power yang besar akan semakin besar, yang tidak bertahan akan hilang, dan yang kecil akan mengikuti sistem yang besar. Contohnya, akusisi adalah pencapaian bagi sekumpulan intelektualis yang memiliki sedikit power (perusahaan kecil), individu kreatif yang bernaung dalam perusahaan besar, kebebasan dalam memilih pekerjaan yang ditunjukkan dengan semakin terbukanya lahan pekerjaan bagi kaum disabilitas. Mereka mengatasnamakan kebebasan yang selama ini diidam-idamkan para buruh kapitalis di masa lalu. Sayangnya, kebebasan selalulah semu.

Lonjakan hasrat manusia saat ini untuk bekerja ditempat yang dapat memberikannya makna dalam hidup dengan membangun kreativitas sesuai kepribdaiannya haruslah dapat dimanfaatkan oleh kapitalis generasi baru.

Lalu apa yang harus sistem pendidikan lakukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan kapasitas intelektual sumber daya manusia yang nantinya diharapkan dapat mandiri atau berfungsi sebagai perangkat yang dibutuhkan oleh suatu negara maupun industri? yaitu dengan menciptakan manusia yang selalu ingat kepada hakikat dirinya yang nantinya diharapkan dapat berlaku bijak pada ranah-ranah akal dan spiritual dalam hubungannya dengan alam semesta dengan cara menanamkan ajaran-ajaran dengan metode yang mendorong perkembangan ilmu dan pengetahuan, minimal tertanam di dalam dirinya. Bukan saatnya lagi pengajar mendektekan murid, bukan sistem satu arah melainkan timbal-balik, bukan juga dengan arogansi melainkan penyetaraan sehingga murid akan secara otomatis mengimbangi intelektulitas gurunya. Kesemuanya itu memiliki maksud untuk menajamkan kreativitas generasi penerus dengan landasan hakikat.

Elemen-elemen tadi tidaklah sederhana. Saya tidak dapat menjelaskan sistem yang mendetail karena saya tidak memiliki kapasitas untuk itu. Tetapi bisa jadi setidaknya bentuk-bentuk tuntutan kebebasan semu individu itu akan berpengaruh pula pada sistem kelas, kehadiran, metode komunikasi, atau bahkan adanya peleburan bentuk institusi pendidikan dengan industri/pemerintah terkait ilmu (untuk menunjang pendidikan yang applicable) — kaitannya dengan pembagian sistem kehadiran tadi (misal: di rumah untuk teori/diskusi via online conference dan kampus hanya untuk keperluan lab atau praktek). Mengingat sistem lokalikasi yang kemudian menjadi semboyan bagi setiap negara menjadi krusial, maka sistem pembangunan pribadi bangsa yang merata haruslah juga efektif. Parameter kemajuan suatu daerah ditentukan oleh kualitas pendidikan di daerah setempat yang diharapkan akan menciptakan putra daerah berkualitas yang nantinya dapat berperan aktif dalam pembangunan ekonomi dan budaya di daerahnya. Kesemuanya bermuara kepada pemenuhan tuntutan mendasar akan kebutuhan manusia yang semakin praktis, efisien dan cerdas.

Sumber: 1, 2, 3, 4.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Membangun Keadilan Dari Tangan Si Bebal | Uppeti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s