Selayang Pandang Pengobatan Tradisional Pasca “Indonesia Sehat 2010”

Leave a comment
Meja Kerja / Tulisan Lepas

Boleh dong buat judul yang agak menantang sedikit 🙂

Pertengahan Agustus kemarin rencananya saya sengaja ke Bandung khusus untuk mendatangi undangan pernikahan teman dekat. Tetapi beberapa minggu sebelumnya ternyata saya mendapat informasi mengenai seminar tentang kefarmasian di ITB yang kebetulan bertepatan sehari sebelum acara undangan pernikahan tersebut. Tanpa berfikir panjang saya langsung mendaftarkan diri saya di baris pertama. Tujuannya agar mendapatkan harga murah meriah (early bird).

Tema seminar kali ini adalah “Penggunaan Obat Tradisional yang Aman untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat.” Saya fikir mengapa tema yang diangkat cukup umum untuk sebuah institusi pendidikan tinggi. Ternyata ini adalah acara yang diadakan oleh alumnus ITB ’93, bukan acara yang diadakan oleh institusi pendidikan tersebut (seperti membahas mengenai penelitian ilmiah, kuliah umum, dll). Hal positif yang seharusnya dicontoh oleh banyak alumnus lainnya untuk mengadakan acara temu alumni yang lebih bermanfaat.

Angkatan ’93 tentunya sudah banyak menghasilkan alumnus yang memiliki cukup pengalaman saat harus berdikari di tempat pengabdiannya masing-masing. Ilmu yang mereka dapat akan sangat bermanfaat jika dibagikan kepada khalayak sendiri ataupun masyarakat luas agar perkembangan ilmu bisa bergerak lebih dinamis akibat keberadaannya yang mudah diraih di permukaan.

……………………………….Beeeeppp!! sebelumnya saya mohon maaf tidak sempat mengambil foto di acara tersebut. Entah fikiran saya sedang dipatok ayam atau saya yang sedang mematok ayam suwir dibalut lemper.

Kembali lagi pada nasi kotak, eh maksud saya seminar pengobatan tradisional. Jika kita lihat dari tema seminar sudah jelas sasaran seminar ini lebih kepada masyarakat luas sebagai bentuk sosialisasi kepada khalayak umum mengenai penggunaan obat tradisional. Tentunya undangan kehormatan pun diberikan pada ibu-ibu PKK yang diwakili oleh ibu Atalia Praratya sebagai ketua pengurus PKK kota Bandung. Peserta lainnya adalah apoteker, mahasiswa dan umum. Dan yang tidak kalah penting untuk mengisi acara ini, didatangkan pembicara seminar yang memiliki latar belakang berbeda namun memiliki peran yang sama dalam perkembangan pengobatan tradisional di Indonesia. Masing-masing dari Dinas Kesehatan (program-program pemerintah) oleh Niniek Ambarwati, S.Si.,Apt., Dosen Farmasi ITB (scientific and common issue) oleh Dr.I Ketut Adnyana, M.Si.,Apt., dan POM (peraturan perundangan) oleh Drs.Abdul Rahim, M.Si.,Apt.

Data RISKESDAS 2013 memberikan gambaran proporsi penyimpanan obat tradisional di rumah tangga masyarakat Indonesia yang berkisar 15.7%. Indikasi ini sebenarnya relatif untuk dikatakan baik atau buruk. Karena semakin tinggi penggunaan obat tradisional oleh rumah tangga, maka fasilitas pelayanan masyarakat terutama dalam hal kontrolnya harus juga memadai. Tetapi tidak pula hasil tersebut lalu dapat dikatakan pencapaian yang cukup baik jika fokus kita mengarah kepada pemberdayaan masyarakat terkait kekayaan sumber daya alam dan warisan budaya yang ujung-ujungnya berimbas pada ekonomi bangsa. Contoh klasiknya lihat saja fenomena Ginseng milik Korea. Tidak kalah, kita pun punya temu-temuan yang diprakarsai oleh Prof. Sidik dengan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) atau paling dikenal dengan produk Kiranti-nya. Tetapi apakah gaung Temulawak sudah dapat mengalahkan Ginseng di mata dunia? Belum lagi kekayaan luar biasa kita akan banyaknya species tanaman obat di Indonesia yang sayangnya sampai saat ini belum terdata lengkap apalagi sampai dengan pengembangan penelitiannya.

Proporsi rumah tangga yang menyimpan obat dan jenis obat yang disimpan, Indonesia 2013. (1)

Kesemuanya tidak jauh-jauh jika ada kesadaran kita akan pentingnya pemanfaatan budidaya tanaman obat, paling tidak dalam skala kecil. Misalnya, jika anggota keluarga sakit diabet anda tinggal memetik daun insulin di pekarangan rumah. Lebih baik lagi jika dalam satu kampung memiliki satu lahan tanaman obat yang bermanfaat dan terpelihara baik. Ok ini sudah pernah digalakan pemerintah, tetapi sudah sejauh apa antusias kita menanggapi usaha pemerintah tersebut? Tantangannya belum lagi kepada masyarakat kalangan atas dan perkotaan yang memiliki lahan sempit. Padahal tergambar dalam data RISKESDAS 2013 bahwa masyarakat di kalangan tersebut juga memiliki minat dan kesadaran tinggi akan manfaat tanaman obat tradisional. Hal yang bisa dijadikan peluang ekonomi daerah dalam hal budidaya, sehingga produksi obat tradisional dalam bentuk kemasan “memadai” sampai kepada masyarakat perkotaan.

Fenomena yang saya lihat di kalangan sendiri, tanaman bentuk segar atau kering sebenarnya lebih disukai oleh kalangan masyarakat berpendidikan dibandingkan obat tradisional dalam bentuk serbuk atau lainnya (jamu). Hal ini disebabkan kekhawatiran terdapatnya Bahan Kimia Obat (BKO) dalam serbuk racikan tersebut. Mungkin kedepannya lebih bisa dipikirkan tren penjualan tanaman berkhasiat dalam bentuk mentah (raw product) yang dikemas mewah atau bisa jadi dalam bentuk pot-pot tanaman hidup. Tetapi lain halnya untuk produk-produk herbal terstandar dan fitofarmaka yang beredar di apotek atau tempat-tempat pelayanan kesehatan terjamin. Karena dalam kasus tersebut sosialisasi jaminan keamanan produk telah sampai di masyarakat dengan baik, sehingga mereka tidak ragu untuk membelinya.

Pernah terfikirkan ini di dapur anda? ok, mungkin ini berlebihan tetapi anda bisa mulai paling tidak dengan meletakkan pot-pot kecil di dapur anda yang mengarah ke matahari. (2)

Masalah tidak habis sampai di sini. Untuk menjamin keamanan tanaman obat yang digunakan sebagai obat tradisional (TO-OT) agar layak konsumsi, aman dan berkhasiat bu Ambar menyampaikan point-point berikut:

  • Tepat penggunaan (waktu, cara, dosis, pemilihan bahan, sesuai indikasi)
  • Formulasi rasional, bahan/ramuan tidak terlalu banyak
  • Ada dukungan ilmiah; teknologi budidaya, pascapanen, ekstraksi, uji praklinik/klinik
  • Informasi menyeluruh dan memadai / tidak menyesatkan
  • Tidak dicampur dengan BKO dan bahan berbahaya lain
  • Terintegrasi dengan berbagai disiplin ilmu (pertanian, farmasi, kedokteran, dll)

Pengobatan tradisional tidak sebatas tanaman obat saja. Saya pernah membahasnya di tulisan sebelumnya mengenai pengobatan alternatif. Jika harus diuraikan, Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) di Indonesia meliputi 4 jenis, yaitu Keterampilan Tanpa Alat (pijat-urut, pijat-urut khusus ibu/bayi, pengobatan patah tulang, dan refleksi), Ramuan (pelayanan kesehatan yang menggunakan jamu, aromaterapi, gurah, homeopati dan spa), Keterampilan dengan Alat (akupuntur, chiropraksi, kop/bekam, apiterapi, ceragem, dan akupresur), dan Keterempilan dengan Pikiran (hipnoterapi, pengobatan dengan meditasi, prana, dan tenaga dalam). (1)

Jika kita lihat bagan di bawah, ternyata masyarakat kita cukup mengapresiasi pelayanan Yankestrad yang artinya selain kontrol terhadap penyedia layanan. Pemerintahpun harus tetap tanggap membangun sistem integrasi yang baik antara layanan kesehatan profesional sampai dengan tradisional. Lalu pengobatan tradisional dengan memanfaatkan Keterampilan Tanpa Alat ternyata lebih disukai dibandingkan pemanfaatan Ramuan ataupun layanan lainnya. Ini artinya kita memerlukan penunjang scientific yang lebih menekankan wayah di ranah-ranah tersebut. Mengingat selama ini penelitian kita hanya berkutat pada tanaman obat dan sedikit pada pengobatan tradisional lainnya. Tentunya tantangan ada pada pengembangan metode penelitian untuk mengukur parameter-parameter yang menjadi perhatian pada objek yang sedang diteliti.

Proporsi rumah tangga yang memanfaatkan Yankestrad dalam 1 tahun terakhir dan jenis Yankestrad yang dimanfaatkan, Indonesia 2013. (1)

Tidak dapat dipungkiri selama ini kita seolah diberikan harapan-harapan manis mengenai efek baik pengobatan tradisional seperti tercapainya kesembuhan total, bebas efek samping, bekerja cepat, harga murah, dan dapat mengobati segala macam penyakit. Inilah yang sebenarnya ingin pak Ketut sampaikan dalam presentasinya.

Saya menyukai penyampaiannya mengenai kedudukan pengobatan tradisional. Dikatakan istilah “Tanah lapang jauh lebih unggul daripada bibit unggul”. Apa yang ingin dikatakannya adalah: semanjur-manjurnya obat, jika manusianya tidak dalam kondisi sehat maka kerja obat tersebut tidak akan maksimal. Disinilah kaitan imun dalam pengobatan tradisional. Pengobatan tadisional memiliki target kerja pada “host”, sedangkan pengobatan conventional terget kerja yang lebih spesifik (misalnya virus). Pandangan ini tepat jika kita memposisikan pengobatan pada posisi preventive dan promotive, bukan sebagai curative (pengobatan conventional). Kesamaan peran antara pengobatan tradisional dan conventional hanya pada tingkatan posisi rehabilitation.

Memang, kita kenal istilah SEES (Side Effect Eliminating Substance), bukti kebijaksanaan alam. Kadang kala isolasi ekstrak murni tidak memberikan efek lebih baik jika dibandingkan saat kita memanfaatkan seluruh dari bagian tanaman yang memiliki efek berkhasiat. Tidak cukup sampai disitu, kebijaksanaan alam selalu saja terusik oleh ketidak rasionalan manusia. Terdapat fakta-fakta mengenai interaksi yang dapat terjadi jika kita mengkombinasikan pengobatan tradisional dengan pengobatan conventional dengan cara yang kurang bijaksana. Belum lagi pada pasien yang memilki deretan penyakit yang harus selalu disiplin untuk mengontrol kondisi kesehatannya. Kekompleksan ini tentunya membutuhkan peran tenaga kesehatan yang proaktif dalam melayani pasien, terutama dalam kontrol kesehariannya.

Mengenai peraturan-peraturan terkait obat tradisional, dalam presentasinya bapak Abdul Rahim menggaris bawahi:

  • UU No.36/2009 tentang Kesehatan
  • Permenkes No.6/2012 tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional
  • Permenkes No.7/2012 tentang Registrasi Obat Tradisional

Jika kita lihat sekilas pandang mengenai perkembangan pengobatan tradisional di Indonesia memang sudah cukup memadai walaupun masih banyak PR yang harus dikerjakan mengingat kompleksitas dan keberagaman dari sisi budaya sampai dengan sumber daya alamnya sendiri. Realisasi Indonesia sehat 2010 kemarin masih belum menyentuh berbagai kalangan masyarakat kita. Apakah masyarakat kita pasca 2010 sudah cukup sehat dan siap menghadapai tantangan lain? Ditambah berkembangnya minat masyarakat akan pemanfaatan obat tradisional (sebagai pengobatan sampai dengan pengusaha produk obat tradisional), maka dibutuhkan sistem terpadu untuk mengontrol perkembangannya. Terlebih lagi saat ini tantangan ada pada arus informasi simpang siur yang kadang menyesatkan berasal dari sumber-sumber yang kurang berkompeten/dapat dipercaya. Kita berharap besar akan keberadaan dan kerjasama berbagai pihak untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat sampai dengan tingkat instansi-instansi lainnya yang bertanggung jawab agar memudahkan atau bahkan memberikan perhatian penuh pada kebutuhan masyarakat kita yang dari satu sisi mandiri (bisa mengedukasi dirinya sendiri) dan satu sisi lagi buta sama sekali.

Sumber: 1, 2, slide presentasi dari tiga pembicara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s