Cicak dan Nyamuk

Leave a comment
Alur Pendek / Kreativitas / Renung / Sejenak

Sore menjelang magrib. Entah oleh karena aba-aba dari ayah atau dengan inisiatif sendiri, hari itu ibu memanggil saya untuk mengajarkan sesuatu.

“Sini nak kita menyanyi.”

Wow, ada apa ini?! Sambil mengikutinya berjalan ke ruang tamu saya pun berfikir. Apa itu menyanyi? Apa yang dilakukan hingga saya harus dilarikan ke ruangan tersendiri? Mengapa harus seformal ini? Tenang Linda, mungkin ini proses yang dilakukan seluruh anak sebaya saya agar menjadi lebih dewasa.

Memang saya pernah dengar musik di radio, yah walaupun saat itu saya belum banyak menagkap arti dari kata-kata yang mereka nyayikan. Yang terdengar hanya was wus was wus suara musik. Jadi pastilah saya belum pernah tahu satu bait pun lirik lagu. Atau bisa jadi waktu bayi saya pernah dinyayikan sesuatu, tetapi saya tidak ingat sama sekali. Bahkan saya tidak pernah mendengar nenek, ayah atau pun ibu menyayi di rumah.

Sesampainya di ruang tamu saya berlari-lari mencari tempat yang paling nyaman diduduki, seolah tempat duduk tersebut akan direbut oleh pesaing berat (imajinasi berlebihan). Ibu yang tidak ambil pusing, memilih duduk di karpet. Ia berkata, “Kita nyayi apa ya…ada banyak lagu. Mulai dari yang panjang atau yang pendek?”

Lalu secepat kilat tanpa berfikir dahulu apa maksud pertanyaan tadi saya menjawab, “Lagu ada berapa mah? Aku mau yang pendek!”

“Ada banyak. Iya, mamah ajarkan satu yang mudah dulu. Nanti setelah hafal, mamah ajarkan yang lain. Dengarkan ya…”

Suasananya jadi semakin serius. Saya pun kemudian mendekati ibu dengan mengikutinya duduk di karpet. Inilah lagu pertama di awal ingatan saya:

“Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
Ada seekor nyamuk
Hap!
Lalu ditangkap.”

Lucu sekali ibu yang sedang berbicara sambil mendayu-dayukan suaranya. Yang paling saya ingat adalah saat saya harus mengulang-ulang lagu tadi sambil mencari-cari apakah saat ini sedang ada cicak di dinding rumah kita. Tidak lama dari situ saya kemudian menemukan cicak yang sedang santai di balik jam dinding. Langkah berikutnya dengan sigap saya tengok kiri-kanan untuk mencari seekor nyamuk.

Pelajaran berharga yang saya dapat di hari itu adalah ternyata dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk mencari cicak yang menghampiri seekor nyamuk. Sambil bernyayi sambil terus berharap menemukan nyamuk yang setidaknya terbang tidak jauh-jauh dari jarak pandang si cicak. Di situ pun saya merasa tidak berdaya karena tidak dapat menangkap nyamuk atapun cicak untuk bisa dipertemukan. Mereka tinggi sekali. Tidak lama kemudian ada seekor nyamuk yang terbang cukup dekat dengan cicak. Tetapi saya malah dibuat semakin kesal karena cicak yang saya lihat ternyata tidak seagresif apa yg dikatakan lirik tersebut tentang cicak.

Sekitar satu jam bernyayi sambil dari kejauhan menguntit persiteruan cicak dan nyamuk, ternyata saya sudah bisa menghafal 4 lagu. Pertama cicak-cicak didinding, pelangi-pelangi, lihat kebunku, lalu bintang kecil. Siapa sangka, ternyata lagu-lagu tersebut dapat memperluas cakrawala saya tentang pola makan cicak yang tidak menentu, pelangi yang katanya indah, kebun yang berwarna-warni. Satu lagi, tidak benar itu ‘bintang kecil dilangit yang biru’. Saat bernyayi, yang selalu ada di benak saya adalah bintang di langit yang hitam.

Ironisnya. Sama halnya dengan bintang di langit yang biru tadi, sampai saat ini pun saya belum pernah menyaksikan nyamuk yang sedang di-hap oleh cicak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s