Wanita Pertama (Miskonsepsi yang Dibikin Asik) – Spoiler Warning!

Leave a comment
Resensi / Resensi Film

Film Lucy sudah saya tonton sekitar 2 bulan yang lalu. Jadi mudah-mudahan saya masih ingat apa saja yang harus digaris bawahi.

Pada awal cerita ditemukan fakta bahwa Lucy adalah nama yang diberikan oleh para ilmuan untuk manusia tertua atau dipercaya sebagai manusia pertama bumi. Begitu pula dengan nama pemeran utama yang diperankan oleh Scarlett Johansson di film ini — petunjuk pertama asal muasal mengapa dipilihnya pemeran utama wanita (selain mitos tentang mitokondria sendiri tentunya). Lucy, satu-satunya wanita di film ini menjadi korban mafia pengedar obat-obatan terlarang jenis terbaru. Seluruh korban bertugas mengantarkan obat tersebut kepada pelanggan dengan cara memasukkan obat dalam plastik (kantong berisi obat) ke dalam perut korban. Dalam perjalannannya, plastik tersebut robek di dalam perut Lucy sehingga obat tersebut terdistribusi masuk ke dalam tubuhnya. Jangan tanya bagaimana, karena untuk dapat terserap ke dalam tubuh haruslah masuk melalui pembuluh darah ataupun dengan rute-rute pilihan yang menjamin pertemuan kimia obat pada reseptor yang dituju.

Inilah yang perlu diiingat. Anda bisa saja tidak menyukai film ini dengan alasan ketidak akuratannya. Banyak yang mengatakan bahwa film ini dibuat tanpa riset lebih dalam. Tetapi hei! ini fiksi, kenapa tidak coba untuk menikmatinya dengan pikiran yang terbuka? Saya sendiri sangat menikmati 89 menit saya tanpa terganggu dengan hal-hal kecil yang tentunya anda sendiri sudah tahu ketidak akuratannya. Lagi pula jika anda menempatkan diri anda sebagai sutradara yang menitik beratkan kebenaran science, cerita anda tidak akan pernah selesai. Butuh fiksi untuk bisa menyudahinya dalam durasi yang singkat.

Adegan yang paling saya suka di film ini.

CPH4 adalah nama obat baru tersebut. Beberapa korban yang di dalam perutnya tertanam CPH4 tidak mengalami apa yang dialami Lucy. Kemungkinan bocornya obat di dalam perut bukannya tidak mungkin terjadi pula pada yang lainnya. Anehnya obat tersebut hanya memiliki efek luar biasa pada Lucy. Belum diketahui secara scientific efek obat dewa tersebut yang ternyata dapat memaksimalkan fungsi otak sampai dengan 100%.

Hal pertama yang kita ingat saat harus mempelajari tentang otak adalah kaitannya dengan kecerdasan (memori) dan perintah agar tubuh dapat merespon segala sesuatu yang terjadi pada diri kita. Dalam cerita digambarkan setiap tahap perkembangan otak yang berimbas pada Lucy. Dari mulai memiliki keahlian beladiri, menerjemahkan bahasa, menajamkan panca indera sampai dengan mengendalian pikiran untuk menggerakkan objek. Ada pula sebuah adegan dimana Lucy mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tanpa celaka akibat dapat memprediksikan kecepatan dan arah laju mobil disekitarnya. Seperti gambar di atas, menariknya bahwa dalam penglihatan Lucy terdapat sinar yang memancar layaknya sebuah senar yang terpasang di udara bebas. Dengan memilah-milih diantara banyaknya benda tersebut — saya tidak tahu harus menyebutnya apa — Lucy dapat mengakses informasi pada jalur-jalur komunikasi. Sama kaitannya dengan adegan sebelumnya dimana Lucy dapat mengendalikan televisi saat dia berbicara dengan Professor Norman. Jika begitu, bagaimana jika kemampuan otaknya sudah mencapai 100%? Apa yang akan terjadi!

Dibuat urutan yang sangat rapih untuk menggambarkan perkembangan otak mulai dari kemampuan kognitif sampai dengan mengendalikan tubuh sendiri (ada adegan dimana Lucy dapat merubah-rubah bentuk tubuhnya sesuai keinginan). Nah jeda antara kemampuan tersebut sampai dengan Lucy yang kemudian menjadi materi semesta itu sendiri (saat sudah mencapai 100% kemampuan otak) adalah pemikiran tentang konsepsi penciptaan atau keberadaan manusia. Memberikan pemikiran “aku ada dimana-mana” adalah motif yang banyak kita temui di film-film sci-fi lainnya. Kenapa? Karena Lucy dapat mengingat (termasuk merasakan) dan memerintah. Jika kecerdasannya mencapai 100% maka ia dapat membuka pintu misteri tentang bagaimana awal mula keberadaan manusia dengan ingatannya tersebut. Dia dapat merasakan bahkan mengingat awal mula kejadiannya dimulai dari dirinya yang sekarang, Lucy si manusia pertama (kera), calon materi hidup (sel), partikel-partikel kecil, sampai dengan awal mulanya keberadaan (yang notabene adalah semesta). Kuncinya ada pada “waktu”. Matematika adalah bahasa, sedangkan yang mewakili eksistensi adalah waktu. Lagi-lagi didekatkan dengan filsafat ilmu alam, matematika dan fisika dalam konteks fiksi. Bisa dikatakan film ini adalah tentang mitos nature of life. Pertanyaanya, bagaimana terjadinya “waktu”?

CPH4 si obat dewa

Jika obat ini memang benar ada, mungkin saja para scientist akan membuat turunannya yang memiliki efek lebih kecil dari efek yang terjadi seperti di film ini, who knows? Siapa yang tidak mau cerdas seketika seperti apa yang digambarkan film ini hanya dengan meneguk satu dosis CPH4. Sayangnya nama obat ini bukanlah nama obat yang sesungguhnya. Diakui oleh sutradara film ini kalau obat tersebut terinspirasi dari sebuah molekul dalam jumlah kecil yang diproduksi oleh wanita hamil setelah usia 6 bulan kehamilan. Dikatakannya bahwa kekuatan dari produk tersebut berperan layaknya bom atom bagi perkembangan si jabang bayi.

Pada kenyataanya nama CHP4 itu sendiri memang ada. Tetapi sampai saat ini belum ada penelitian yang menjelaskan keterkaitannya dengan kecerdasan otak manusia. CPH4 atau 6-carboxytetrahydropterin synthase merupakan enzim yang terdapat pada sel di banyak organisme (terutama pada bakteri). Kerja enzim ini di dalam sel adalah untuk membantu produksi Queuosine. Queuosine berfungsi sebagai pengikat rantai tRNA pada sel bakteri.

Kecerdasan kita hanya 10%?

Jika perintah diumpamakan sebagai salah satu perangkat kecerdasan, maka saya akan menyederhanakan pengertian fungsi otak = kecerdasan, dan bukan lainnya. “Perintah” erat kaitannya dengan “kecerdasan”,dengan mekanisme mengingat ataupun dengan adanya variasi urutan template yang dimiliki manusia itu sendiri untuk merespon suatu kejadian ditubuhnya (respon sadar ataupun tidak sadar). Seperti halnya pilihan processor intel atau AMD, maka akan dibutuhkan perangkat-perangkat penunjang lain yang compatible agar sebuah komputer dapat dioperasikan dengan baik. Untuk performa dalam kecepatan, grafik, kapasitas, dll.

Manusia mengingat karena otak memerintahkan bahwa informasi tersebut penting. Jika sedikit ingat maka orang tersebut sudah lebih dulu mengerti bahwa informasi tersebut sedikit penting pula, atau dengan kata lain menghiraukan informasi. Ingatan (memori) diumpamakan sebagai tempat penyimpanan arsip yang berfungsi sebagai alat rekam. Dengan asumsi tersebut kita dapat memahami pengertian kecerdasan dalam lingkup kerja otak. Jadi tentunya mengulang dan fokus terhadap suatu kejadian adalah salah satu upaya untuk memerintahkan otak bahwa informasi tersebut penting untuk diingat. Masalahnya tingkat urgensi setiap orang berbeda-beda. Itu sebabnya daya tangkap seseorang tidaklah sama. Karena akan tergantung pada kejadian-kejadian dilingkungannya di masa lalu/sedang terjadi — ini kaitannya dengan memori (pula) — yang menyebabkan perbedaan asumsi tingkat urgensi atau yang biasa kita sebut sebagai “minat”. Minat dan bakat adalah fasilitas utama untuk mendapatkan prestasi yang baik bukan? Lalu bagai mana dengan “bakat”? Yup, sifat yang diturunkan (genetika) berbeda-beda pada setiap orang. Bayangkan jika kita memiliki template dengan urutan yang sama pada seluruh manusia, mungkin semua orang di dunia ini menjadi petani atau semua orang di dunia ini menjadi atlet. Apakah mahluk di bumi ini akan bisa hidup jika semua peran yang dilakukannya serupa?

Di film ini dikatakan bahwa manusia hanya memakai setidaknya 10% kemampuan otak. Bagi saya (dan pengkritik film Lucy yang lainnya) beranggapan pemahaman in tidak mendasar. Apa parameternya sehingga dikatakan bahwa kita hanya menggunakan 10% saja? Sedangkan manusia normal harus memilki fungsi otak yang baik untuk dapat beraktifitas. Setiap aktifitas tergantung dari responsibilitas tadi (kaitan pada urgensi memori dan genetika), baik itu respon yang mempengaruhi keadaan fisik di lingkungan sekitar orang tersebut hidup ataupun respon terhadap kompleksitas molekular di dalam tubuhnya.

Siapapun bebas beropini

Lagi saya katakan. Anda bisa saja menganggap film ini mengangkat pemikiran athesime atau bisa saja membahas habis-habiskan mengenai mitos kemampuan otak manusia yang hanya 10% itu. Tetapi film ini hanyalah bagian dari art yang ber-genre sci-fi. Relax!

Luc Besson sungguh seperti mempermainkan kita. Sesugguhnya siapa yang mengganggap bodoh siapa. Atau siapa yang sebenarnya dibodoh-bodohi antara penonton dan sutradara film itu sendiri. Beliau sengaja membuat misconception notions agar sepulangnya dari teater, penonton merasa lebih percaya diri dengan persepsinya terhadap film ini. Mungkin yang ingin diciptakannya adalah penonton yang terus membahas film ini kepada teman-temannya sepulangnya ia ke rumah dan riset lebih dalam lagi hingga menemukan banyak hal untuk dipelajari. See? Kekuatan si dalang dalam mempermainkan tidak hanya tokohnya tetapi juga khalayak.

Judul film: Lucy (2014)

Sutradara: Luc Besson

Penulis: Luc Besson

Sumber: 1, 2, 3.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s