Di Bahteranya

Leave a comment
Kreativitas / Puisi

Aras,
Kita selayak benih
Tertanam di satu lini
Pada semesta dalam sujud patuhnya
Menopang jutaan dansa di ranah bermain
Waktu, cukup senja bagi segala mahluk

Empat burung gereja berjajar jenaka
Bukan! bukan maksud aku menabuh deras darahmu
Jangan kau terbang sekelibat itu
Belum cukup kuasaku berkehendak menghardik

Detik ini aku letakkan sumsumku padamu
Oh ibu, cukuplah buta aku untuk mengetahui
Jangan eja aku dalam bahasamu
Runutlah aku sebagaimana sumsumku melabuh

Perhatikan…
Sepasang mata bermimik pandir
Bersolek tawa ia bicara,

Aku datang jauh-jauh
Untuk sekeranjang melati putih
Yang kemudian kau sebar,
Saat perjumpaan di labuhan terakhir
Di kubangan itu, sebuah pintu telah terbuka
Aku berharap datangnya sejumput cahaya
Tanda turunnya pengampunan

Entah di tanah pusara Batu Putu
Pulau Pahawang
Atau Pesisir Sunda tempat terbaringnya leluhur
Gaib
Beri aku minum
Beri aku minum
Beri aku minum

Dengan sayap tipis aku merangkulmu
Genggamku melipat diantara jemarimu
Berkah,
Tersibak layar penuh harap
Ratapku menabuh jantungnya
Membuka ruas-ruas kasatmata
Di bahteranya aku manusia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s