Bacaan Bahagia Lahir Batin

Leave a comment
Renung / Sejenak

Menilik statistik status pengunjung, ternyata banyak diantara pengunjung menemukan blog ini melalui search engine Google untuk pencarian informasi mengenai SIPNAP. Saya tidak yakin benar apa yang sebenarnya mereka cari dari tulisan tersebut. Jika mereka mencari opini, ya, tetapi jika mereka mencari step by step bagaimana mengoperasikan SIPNAP, mereka tidak akan menemukan apapun. Yang membedakan tulisan opini dengan tulisan lain adalah umpan balik dari pembaca. Seperti kail pancing yang dilempar ke kolam ikan. Akan ada banyak tanggapan dari pembaca, terlebih lagi jika traffic-nya tinggi. Tetapi tidak dengan tulisan tersebut. Anda boleh menilai sendiri setelah melihat banyaknya komentar. Jika dikait-kaitkan, ini layaknya buku-buku jenis self help yang makin banyak beredar dan laris manis. Misalnya buku mengenai bagaimana cara membuat blog yang baik, bagaimana cara agar sukses, bagaimana cara menghilangkan stress, cara mudah mengaji, cara mudah menghafal, cara mudah menjalani hidup (ops! …improvisasi), dan banyak lainnya. Hampir semuanya menawarkan bagaimana cara instan bahagia dunia akhirat.

Saya tidak menyalahkan keadaan tersebut. Justru ini merupakan pertanda postif akan tingginya minat seseorang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Pertanda minat masyarakat untuk mengedukasi dirinya. Kita butuh antaran yang jelas dan langsung kepada inti permasalahan. Jangan, jangan terlalu cepat menghakimi sebagai pemalas, coba cari padanan kata lainnya yg lebih sopan, ck!. Karena toh kita butuh sesuatu yang instan diantara kesibukan yang padat sebagai ibu rumah tangga ataupun sebagai budak kantoran.

Anggap saja begini: “Saya bukan professor nutrisi, saya seorang akuntan yang butuh sedikit informasi mengenai bagaimana cara diet yang benar. Jadi saya tidak akan menghabiskan waktu saya untuk membaca textbook di perpustakaan universitas”.

Berapa persen rak buku anda dipenuhi oleh buku-buku self help?

Berapa persen jenis buku tersebut ada di toko buku kesayangan anda? — Apakah letaknya ada di front row sebagai Best Selling Books?

Ya, kita tahu instan adalah keterbatasan. Jadi, tentunya segala sesuatu yang instan adalah kreativitas yang dibatasi. Beberapa syarat dibuat untuk menentukan komposisi yang tepat agar cukup informatif dalam keterbatasan. Cukup adil untuk manusia yang memang hidupnya selalu dekejar-kejar waktu, yang memang…waktu yang dimilkinya terbatas.

Tidak mungkin saya katakan bahwa Al-Quran merupakan buku self help, karena isinya mencakup keluasan. Tetapi, diantara banyaknya kandungan, di dalam Al-Quran juga terdapat tuntunan/panduan manusia agar tetap berada di jalan yang lurus. Jadi tentu saja di dalam hal tersebut dapat dikatan Al-Quran mengandung unsur self help. Al-Quran dengan keluasannya dimuat dalam satu buku saja. Tidak ada jilid 2 dan seterusnya. Bayangkan, satu buku untuk seluruh hidup. Kitab dengan kekayaan ilmu yang memuat tuntunan, aturan, science dan hal-hal lainnya. Disiapkan untuk manusia taati, penerangan untuk apa-apa yang sanggup manusia ketahui. Dari situ saja sudah ternalar di diri kita bahwa Allah mengetahui dengan jelas sifat manusia. Untuk dapat dimengerti oleh manusia, tidaklah dibuat kitab yang sangat amat tebal yang rumit dan panjang lebar untuk menjelaskan tentang banyak hal. Tetapi adalah tugas manusia untuk mencari tahu kedalamannya. Diturunkan-Nya kalimat-kalimat dengan komposisi yang luar biasa, tidak terlalu mudah (sehingga harus diuraikan dalam kalimat-kalimat yang panjang lebar — berbelit-belit) dan tidak terlalu rumit (sehingga kalimat-kalimatnya menjadi terlalu pendek — menimbulkan perbedaan faham) agar dapat dengan mudah dimengerti manusia. Bisa jadi itu sebabnya Al-Quran merupakan salah satu Best Selling Book sepanjang masa. Loh, tunggu apa lagi? buruan buat self help book dengan judul pamungkas: Cara Mudah Menulis Buku Self Help; jaminan penghasilan.

Begitu juga prinsip-prinsip yang dipegang oleh self help book, walaupun urutan aturan komposisinya tidak persis sama. Literatur yang dibuat oleh manusia. penguatan-penguatan pemikirannya dibuktikan dengan metode penelitian atau berdasarkan perunut sebelumnya. Sedangkan kitab, penguatan-penguatannya acap kali diuraikan dengan menunjukkan bukti-bukti yang ada disekitar kita yang jika ingin manusia buktikan maka harus dilakukankan dengan metode-metode yang diketahuinya untuk mencapai kebenaran. Penjelasan mengenai ini tidak akan cukup jika harus menguraikannya dalam blog dengan riset alakadarnya. Secara garis besar, prinsip-prinsip self help book yang hampir sama dengan kitab adalah dalam hal pengemukaan aturan, pemberian jawaban untuk berbagai kesulitan, dan bahasa yang komunikatif. Sedangkan perbedaannya adalah bagaimana self help book mengangkat satu topik yang diulas habis dalam runutan-runutan dan point-point yang jelas dalam satu atau lebih buku. Self help book juga berbeda dari buku filsafat walaupun keduanya sama-sama bertujuan untuk menjawab permasalahan. Self help book ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti sehingga sering kali dibaca dalam kondisi yang tidak mengharuskan pembacanya untuk fokus, sedangkan buku filsafat merupakan tulisan yang menguraikan suatu keadaan dengan bahasa yang rumit yang hanya dapat dimengerti dan dianalisa oleh beberapa kalangan saja.

Saya tidak lalu menjadi pendukung fenomena ini secara gamblang. Menyadari keterbatasan kita untuk mengingat informasi yang terlalu banyak dan ringkas, point per point. Kembali lagi kepada kitab Al-Quran tadi, kita perlu penerjemah dan pemikiran banyak ulama untuk dapat mengerti seluk beluknya. Pemikiran-pemikiran tadi dibuat dalam buku tafsir oleh pencari Tuhan dan untuk pencari Tuhan. Janganlah jadi terlalu malas untuk mencari kebenaran. Apakah kita percaya begitu saja dengan informasi yang kita dapatkan tanpa tahu jelas asal muasal pendapat tersebut?. Sudah jelas mana fakta dan panjangnya pencarian yang harus kita tempuh. Di sinilah saya fikir, arah bias ilmu yang dapat diuraikan oleh satu buku self help itu sendiri. Kerebat dekat filsafat, dan bermasyarakat dengan ilmu lainnya. Ruang untuk kreativitas, saat untuk kita berfikir lebih kritis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s