Film yang Cocok buat Pengangguran Galau: Tiny Furniture

comments 2
Resensi / Resensi Film

Dalam film Tiny Furniture ini Lena Dunham membuktikan bahwa ia benar-benar mewarisi darah seni kedua orang tuanya (Carroll Dunham dan Laurie Simmons). Selain sebagai pemeran, dia juga berkedudukan sebagai sutradara dan penulisnya sekaligus. Saya tidak tahu apakah film ini menceritakan bagian dari hidupnya sendiri di masa-masa sulitnya dalam menentukan hidup atau bukan. Namun karakter ibu dan adik perempuannya dimainkan oleh mereka sendiri. Saya rasa isu-isu yang diangkat dalam film ini merupakan akar yang kemudian dikembangkannya untuk film seri Lena berikutnya: Girls.

Saya menemukan film ini karena ketertarikan saya dengan genre film drama dark comedy. Dan SURPRISE! ternyata saya mendapatkan film bagus yang dibuat dengan sangat baik. Ya ya, untuk film sejenis itu tentunya tidak absen sepanjang film ini berputar saya tertidur kira-kira 2 kali karena lumayan bosan dengan alurnya.

Peran Aura yang dimainkan oleh Lena sendiri merupakan karakter yang sering kita temukan dalam kehidupan sebenarnya. Sampai kita dibuat seakan-akan sedang menonton film semi-dokumenter. Aura baru saja lulus dari kuliahnya, kembali hidup bersama ibunya dan adiknya. Dia sebenarnya tidak senang akan keadaannya yang harus kembali ke rumah. Tetapi dia tidak memiliki uang yang cukup untuk dapat hidup sendiri. Berharap mendapatkan pekerjaan yang baik, ternyata berujung menjadi seorang resepsionis di sebuah restoran. Ingin mendapatkan kasih sayang dari keluarganya, namun ibunya terlalu kaku dan cepat merasa terganggu (ibunya digambarkan sebagai sosok yang sukses dalam karir), sedangkan adiknya perempuannya juga tidak berkomunikasi baik dengan Aura bahkan Aura merasa seperti dia adalah saingannya di rumah itu.

– So what do people with no money do?

– They loiter at libraries.

Film ini seperti tidak beralur, lambat dan menoton. Sengaja dibuat memang untuk menggambarkan suasana kehidupan Aura yang tidak tahu arah hidupnya. Orang-orang dalam film ini passive-aggressive. Tidak ada yang tertawa bahkan mereka sendiri tidak mencoba untuk bercanda. Padahal film ini termasuk film komedi. Kita hanya akan tergelitik dengan kalimat-kalimat naifnya saja.

Poetry’s a very stupid thing to be good at. I mean, poems are basically like dreams — something that everybody likes to tell other people but nobody actually cares about when it’s not their own, you know? Which is why poetry is a failure of an intellectual community.

Advertisements

2 Comments

  1. salam kenal 😀
    terima kasih sudah berbagi info mengenai film ini. menambah referensi saya tentang film2 semacam 🙂 jadinya paham kalau masalah pengangguran–atawa dewasa muda yang enggak bisa nentuin arah hidupnya–ini di mana2 ada, mulai dari jerman (oh boy!), inggris (how to be), australia (muriel’s wedding), sampai AS (ghost world, step brothers, dll.)

    • Hai, salam kenal juga. Sama2 dayeuh..
      Baru2 ini saya nonton film “Frances Ha”, kira2 sejenis dengan film ini dengan skor IMDB yg lebih tinggi (kalau tidak salah). Film2 ttg pencarian jati diri memang menarik dan banyak diangkat dengan penyampaian yang unik dan menarik – kebanyakan genre nya drama comedy atau terkadang lebih ke dark comedy.
      Btw, Step Brother lucu banget! Will Farrell jago deh hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s