Dongeng Engka Ketan

Leave a comment
Resensi / Resensi Wisata / Update Status

Engka Ketan

Engka Ketan

UPDATE LEBARAN: Sambil makan engka ketan (kue lapis khas Lampung), mamah cerita kalau semakin tipis dan banyak layernya berarti semakin rajin perempuan tersebut. Dulu di setiap rumah, engka ketan bisa dibilang simbol ketekunan gadis di rumah itu. Yak, di zaman Siti (nenek), setiap calon mempelai wanita biasanya memamerkan keterampilannya dalam berumah tangga, misalnya membuat teghrai (separai kasur) untuk persiapan menikah. Siapa yang paling baik hasilnya maka teman-temannya akan datang untuk saling meniru. Semakin rajin, semakin tinggi derajatnya dimata mertua. Emansisapi..emansisapi.. Jangan salahkan rezim Pak Harto lah hai ;p

Soal cara buat nih. Engka ketan dulu dimasak menggunakan areng untuk api bawah, setalah lapisannya mulai banyak arengnya disisihkan lalu diungkep bagian atasnya agar mendapatkan panas dari bagian atas (supaya bagian bawah kue ga mutung). Orang asli sini lebih suka engka ketan yang dibuat dengan arang dibandingin yang dibuat menggunakan oven (dari gosong-gosong arengnya itu kali ya). Dengrin ceritanya jadi lebih bisa menghargai apa kue sederhana yang setiap tahun nangkring di meja dan jarang saya makan karena manisnya yang luar binasa –> alasan buat nambah kue satu iris lagi. HAP!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s