Welcome Homo Erectus!

Leave a comment
Renung / Sejenak

Homo Erectus ada pada masa purba, sedangkan masa sekarang adalah masa purba wannabe. Memang saya belum mengerti secara penuh mengenai kronologis teori evolusi, karena itu saat ini saya ingin menyamakannya dengan menggeser sedikit perspektif anda untuk melihat tulisan ini melalui sudut pandang setting masa yang berbeda dari yang umumnya kita ketahui. Yaitu masa Homo Erectus Wannabe.

Manusia modern saat ini menyadari banyak hal yang diakui sebagai kesalahan masa lampau untuk memenuhi obsesinya yang berlebihan. Akibat dari kesadaran tersebut, bermunculan pergerakan-pergerakan berbagai individu maupun organisasi seperti Greenpeace, club olah raga sampai individu vegetarian yang populasinya bertambah. Bagi anda yang telah membaca buku Food Rules karangan Michael Pollan, disana dijelaskan bagaimana makanan itu seharusnya diolah, dari situlah kita tahu bahwa makanan yang ada di swalayan sekarang ini belum tentu adalah makanan sungguhan yang layak konsumsi. Makanan sungguhan dalam arti makanan yang diperlalukan dengan baik mulai dari bahan baku sampai pengolahan. Dapat dicontohkan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang selalu ada disetiap musim dalam jumlah yang banyak, kemudian ayam yang disuntikkan hormon sehingga kakinya tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya yang berlebihan akibatnya ayam tersebut hanya dapat berjalan beberapa langkah kemudian terduduk lelah untuk kemudian melanjutkan jalan kembali. Dosenku juga pernah mengatakan bahwa makanan yang kita konsumsi sekarang bukan tidak mungkin merupakan makanan hasil dari olahan bioteknologi ataupun hasil sintesis. Bayangkan banyaknya orang yang setiap harinya minum teh sedangkan hasil teh dunia belum tentu dapat mencukupi kebutuhan akan kebiasaan minum teh kita setiap harinya tanpa adanya suatu rekayasa. Berapa banyak perisa melon yang rasanya sendiri bukan merupakan hasil isolasi dari buah melon itu sendiri melainkan hasil sintesis sehingga hasilnya menyerupai rasa melon.

Apa sebenarnya titik akhir yang ingin dicapai oleh aktifis-aktifis lingkungan, para vegetarian dan penggiat olahraga yoga sampai pilates. Manusia dari masa ke masa bergerak untuk suatu pencapaian. Sudah hukum alam dimana setelah pencapaian tersebut diraih, maka akan timbul suatu permasalahan baru. Bumi ini sudah terlalu tua untuk menampung kita sebagai manusia yang tidak pernah mencapai titik stabil dalam kehidupannya, manusia yang semakin hari semakin aktif bergerak dengan kebutuhan energi yang banyak pula sehingga kita kenal sekarang dengan istilah pemborosan energi. Inovasi dan inovasi kemudian semakin beragam sengaja dibuat untuk mengatasi masalah demi masalah. Penghematan energi yang baru saja euforianya kita rasakan seperti Earth Hour yang diorganisir oleh WWF sejak 2007, Car Free Day, penggantian kertas menjadi bentuk digital dengan ebook reader ataupun komputer dengan peran email atau lainnya, tiny house dan juga rumah berventilasi dengan pencahayaan terbuka. Tidak mau ketinggalan, pasarpun sudah mencium gelagat pergeseran pemikiran konsumennya yang semakin sadar lingkungan. Berbagai produk ebook reader, netbook, ac, makanan yang mencantumkan label ‘organik’, dll. Pemecahan yang sesungguhnya sangatlah fana. Bahkan energi pengganti tidak juga secara signifikan menyelesaikan masalah sebenarnya. Oke buku-buku kuliah, novel dan jurnal sudah dimasukkan semua kedalam suatu perangkat yang dinamakan ebook reader, ebook readerpun naik pamor di tahun 2010, diprediksikan penjualan dan permintaan pasar akan terus meningkat dikemudian hari. Namun ternyata ada sebagian pecinta lingkungan yang kritis menghadapai situasi ini tidak langung terpengaruh dengan adanya produk-produk ini. Dengan kritisnya mereka mempertanyakan seberapa hijau produk tersebut. Dan pada akhirnya diketahui bahwa komponen-koponen pembentuk ebook reader tersebut tidak ramah lingkungan. Belum diketahui seberapa besarkah efek pengrusakannya jika dibandingkan saat kita menggunakan buku biasa dengan menggunakan ebook reader. Info lebih lanjutnya silahkan dilihat gambar serta komentarnya disini. Tidak hanya ebook reader, hal yang sama juga dapat ditemui pada produk-produk lainnya. Karena itu kita harus lebih kritis lagi agar bijaksana memilih segala halnya itu.

Prediksi teknologi ramah lingkungan ataupun ramah-ramah lainnya pada akhirnya biasa saja digambarkan sebagai kembalinya manusia modern ke kehidupan purba, perbedaannya adalah manusia modern masa depan merupakan manusia purba sadar teknologi. Bukan merupakan teknologi yang super kompleks tetapi teknologi runutan kompleks yang pada akhirnya menjadi sederhana. Bayangkan sebuah teknologi super kompleks yang pada akhirnya merusak seperti nuklir atau PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir), jika dibandingkan dengan kicir-kicir yang lebih aman. Atau rumah super canggih dengan ac, lampu mewah, pager listrik dibandingkan dengan rumah kecil serba terbuka. Ayam gemuk dibandingkan dengan ayam kampung. Buah kaleng dibandingkan dengan buah hasil menanam sendiri. Sangat ironis. Seperti Einstein yang pada akhirnya menyerah berharap pada sebuah korek api untuk menyalakan kompor, bukan pada gas meleduk atau nuklir meleduk sekalipun.

Saatnya memanjakan diri dihentikan sebelum tutup usia tidak menyadari apapun. Bahkan lewat film animasi Wall-E saja manusia manja yang bahkan sulit berdiri (benar-benar tidak dapat bergerak karena berat badannya), pada akhir cerita akan semakin sehat dengan bergerak untuk bercocok tanam. Namun kesadaran bukan pada pengendalian diri melalui ilmu dunia saja, tetapi juga yang diatur oleh ilmu agama (banyak anak/istri = kurang kendali). Saat ini kebutuhan sekunder yang telah menjadi kebutuhan primer semakin menjadi-jadi.

Yak kembali pada garis merahnya, jika berandai-andai, maka kepercayaan konsumen pada pasar akan menurun sehubungan dengan kepercayaan pada pengolahan dan bahan baku yang layak guna. Piramida besar akan menyusut menjadi sebuah piramida kecil yang saling bekerja sama. Sistem yang dilindungi oleh hukum akan mengatur semuanya termasuk proses, bukan kepentingan perorangan. Harapannya adalah pencapaian kesejahteraan umat banyak, bukan kepentingan satu orang. Kesejahteraan yang dipetik dari usaha kejujuran dan keterbukaan. Pemenangnya adalah produk cinta sejati, bukan produk manipulasi ataupun produk cinta cenat cenut. Contohnya seperti Body Shop dengan inovasi dan caranya memikat pelanggan dengan membuktikan bahwa produknya merupakan produk baik hati dengan bahan baku yang baik pula tanpa menyakiti siapapun — si “tanpa uji klinis pada hewan”. Terlepas dari itu semua, perubahan piramida besar yang pada akhirnya menjadi piramida kecil disebabkan karena turunnya kebutuhan pasar (kecuali pada produsen-produsen inovatif) dan sadarnya manusia akan pencukupan kebutuhannya sendiri. Mereka mempercayakan pengolahannya pada diri sendiri atau kelompok kecil dengan sistem menempati kedudukan tertinggi. Ingat, manusia nantinya adalah manusia-manusia terdidik dengan jutaan ilmuan yang akan dipercayakan untuk menangani suatu proses dalam lingkup piramida kecil. Yang ikut diuntungkan disini adalah perusahaan penyedia seperti Alfamart, Indomaret, Yomart, dll. Perusahaan tersebut menyediakan produk skala lokal yang terpercaya dan terawasi oleh suatu badan pemerintahan. Bayangkan sebuah sistem kecil dengan menggunakan energi terbaharui (bisa saja berupa biofuel yang didapat dari hasil olahan bahan baku terbesar di area masing-masing). Bravo my dream town!

Jangan terlalu dianggap serius, ini cuma konsep.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s