Obrolan Twitter: “Non Complience of Drugs”

Leave a comment
Meja Kerja / Tulisan Lepas

Menampung pertanyaan menarik dari @viameidavia mengenai “Non Complience of Drugs” tercatat Sun/Sep 12 2010/10:27-10:58 (SE Asia Standard Time)/via web, berikut saya tuliskan kembali obrolan pada Twitter ke dalam blog ini, terimakasih @viameidavia. Media_httpfarm5static_foads

  • Ok! kita bahas mengenai “Non Complience of Drugs” atau ketidak patuhan pasien terhadap terapi obat 🙂 (@viameidavia). Sebelumnya saya mau ngolor ngidul dulu nih biar yang belum kenal jadi kenal sama yang namanya istilah “non complience of drugs”. Ketidakpatuhan terhadap terapi obat tersebar luas. Ketika pasien mendapatkan resep, hampir separuhnya pasien-pasien tidak mengambil obat atau tidak menganggapinya dengan serius. Hal ini mengahawatirkan khususnya pada pasien2 yang memang memerlukan pendisiplinan penggunaan obat pada penyakit-penyakit tertentu. Penyakit-penyakit itu seperti TB (banyak terjadi di Indonesia—-tetapi sekarang mulai baik kualitas kontrolnya karena program DOTS), Diabetes (untuk mencegah terjadinya komplikasi), hipertensi (mencegah serangan jantung tidak terkontrol), asma, dll.
  • Masalah utama dalam mengidentifikasi pasien non-compliant adalah unreliability dari banyak langkah-langkah yang digunakan untuk menilai kepatuhan. Ada karakteristik sosial dan beberapa demografis yang terkait dengan ketidak kepatuhan. Misalnya di Indonesia sendiri, ketidak patuhan ada karena berbagai faktor seperti ekonomi dan kurangnya pengetahuan. Contohnya seorang pekerja di rumah saya bercerita, ayahnya tidak patuh minum obat anti-TB, dan dia sering sekali memberi separuh obatnya ke temannya yang juga memiliki penyakit yang sama yaitu TB karena dia sudah mulai merasa jenuh untuk meminum obat itu terlalu lama. Alhasil, keduanya mengalami resistensi obat, dan akibatnya mereka berdua memerlukan pengobatan yang lebih lama lagi dan memerlukan biaya yang lebih mahal tentunya.
  • Solusi demi solusi difikirkan, seperti diadakannya Home Care, dimana orang-orang yang terkait dan bertanggung jawab pada pasien tersebut dengan penyakit tertentu berkunjung ke rumah pasien untuk mengontrol. Ada juga cara seperti penyederhanaan bentuk kemasan obat dan dibuat lebih menarik dengan penandaan yang mudah. Kemudian membatasi jumlah pemberian resep secara bersamaan agar memudahkan untuk mengingat. Peningkatan pemahaman pasien agar lebih patuh. Dan juga pemutakhiran bentuk obat, dimana biasanya minum 3x sehari..kini kita hanya perlu minum 1x sehari saja (1 tablet untuk 1 hari).
  • Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan akibat ketidakpatuhan penggunaan obat, sebaiknya meyakinkan diri dengan bertanya kepada dokter mengenai lama penggunaan obat. Apakah obat tersebut harus dihabiskan atau bahkan dihentikan ketika gejala dirasakan sudah hilang.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s